Thursday, 27 November 2014
Antara Hawa Nafsu dan Syariat Allah
Pernah denger nggak sih, kalimat semisal ini?
“Jangan kayak gitulah, kalo gitu sih terlalu ekstrim”
“Islam itu kan toleran, mudah, nggak nyusah-nyusahin, fleksibel”
Kalimat yang begini, bila diucapkan oleh seorang ulama yang mengerti tentang agama tentu sesuatu yang baik, sesuatu yang benar. Tapi seringnya kalimat-kalimat semisal ini keluar dari lisan orang-orang yang malas dan nggak serius mempelajari Islam, untuk membenarkan kesalahan yang dia lakukan, untuk memilah-memilih hukum mana yang dia suka dan mengabaikan hukum yang tidak dia suka atau bertentangan dengan perbuatannya.
Misalnya, seringkali saya menyampaikan tentang haramnya riba dan turunannya seperti KPR, leasing, kartu kredit, serta haramnya beberapa transaksi ekonomi lain seperti asuransi dan perdagangan saham, biasanya yang keluar dari orang yang begini,
“Jangan kayak gitulah, kalo gitu sih terlalu ekstrim”
Tidak terjadi hal semisal itu ketika saya menjelaskan pada masyarakat tentang keutamaan berpuasa sunnah, rajin bersedekah, semangat dalam menghapal Al-Qur’an, memperbanyak shalat malam dan sunnah-sunnah nawafil lainnya.
Mengapa bisa begitu?
Memang kita hidup dalam masyarakat yang menjadikan dirinya sendiri dan nafsunya menjadi standar atas baik dan buruk, atas halal dan haram, bukan Allah yang menentukannya.
Sesuatu yang menurut dia baik lantas dikatakan baik, sesuatu yang dia belum melakukannya atau dia belum mau melakukannya, maka dikatakan ekstrim. Sayangnya dia sendiri malas dan lalai dalam mempelajari agama.
Lucunya, terkadang ulama yang jelas lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mempelajari agama Islam, dan jelas lebih mengetahui apa yang kebanyakan manusia tidak mengetahui tentang perkara agama, bisa dihukumi “sesat” atau “tidak sesat” oleh segolongan manusia berdasarkan hawa nafsunya.
Hampir-hampir mirip dengan sifat kaum Yahudi yang ketika didatangkan seorang Rasul bagi mereka, bila Rasul itu menyampaikan sesuatu yang bertentangan dengan hawa nafsu mereka, maka mereka mendebat bahkan membunuh Rasul itu. Bedanya dengan sekarang, baru sebatas pembunuhan karakter.
Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israil, dan telah Kami utus kepada mereka rasul-rasul. Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh (QS Al-Maaidah [5]: 70)
Ceritanya, ada orang yang masih berkutat dengan riba, bahkan hidup dari sana. Sudah umum juga diketahui bahwa seringkali dia melibatkan suap dalam melancarkan bisnisnya. Dan, suatu waktu ada ulama yang menyampaikan haramnya riba dan suap, maka dia katakan
“Wah, itu ustadz ekstrim, salah tuh, terlalu menghakimi dan terlalu keras”
Nah, jadi sekarang yang “Ustadz” yang mana sih, dia atau yang sudah belajar? Jadi, yang “terlalu menghakimi” dan “terlalu keras” siapa?
Agama Islam ini memang agama yang mengatur seluruh kehidupan manusia, karena datang dari Allah yang Maha Mengatur. Memang ada beberapa hal di dalam Islam yang hukumnya syubhat (abu-abu) atau ada ikhtilaf (perbedaan) ulama dalam memandang hukumnya. Namun lebih banyak lagi di dalam agama ini yang sudah jelas-jelas hukumnya didalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang takut terhadap syubhat berarti dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya disekitar (ladang) yang dilarang untuk memasukinya, maka lambat laun dia akan memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan larangan Allah adalah apa yang Dia haramkan. Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah qalbu (HR Bukhari Muslim)
Semua tertulis jelas hukumnya di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, kalau saja kita mau belajar mengerti dan memahami hal tersebut.
“Tapi kan nggak semua orang yang bisa paham itu? Baca Al-Qur’an dan As-Sunnah pun harus ada penjelasannya kan?”
Betul sekali, karena itu mulailah belajar. Minimal sediakan tafsir Al-Qur’an sebagai teman dalam membaca Al-Qur’an, setelah tilawah, lanjut dengan merenungi arti serta tafsirnya, dan diskusikan dengan ahli ilmunya bila masih ada yang kurang memahami.
Beli buku yang berkaitan dengan masalah yang kita ingin kuasai, datangi majlis-majlis ilmu yang membahasnya, atau bahkan undanglah yang memiliki ilmunya untuk membahasnya bersama-sama.
Tapi tidak dengan mengatakan,
“Islam itu kan toleran, mudah, nggak nyusah-nyusahin, fleksibel”
Lalu dia menyerahkan definisi “toleran-mudah-nggak susah-fleksibel” itu sesuai dengan dia, tanpa ilmu, tanpa pengetahuan, sehingga sudah pasti akan menuju jalan kesesatan.
Terus terang, saya lebih kagum dan respek pada beberapa teman yang masih bermaksiat namun sadar bahwa mereka bermaksiat, sadar bahwa mereka salah. Hanya perlu dukungan dan waktu saja, dan tentu izin dan hidayah Allah agar mereka mau berubah ke arah yang baik. Karena kesadaran akan kebenaran itu sudah setengah dari kebaikan.
Ada yang tahu kerudung punuk unta itu dilarang, tapi masih menggunakannya, tapi dia sadar betul dan mau untuk mengubah penampilannya, hanya masih belum yakin, hanya masih perlu waktu.
Ada yang masih pacaran, tapi kemana-mana bilang haramnya pacaran. Bukan karena niat yang salah atau sengaja, tapi mungkin masih belum yakin, setan munafik masih ada di dalam hatinya, mungkin masih perlu waktu dan dukungan.
Ada yang masih makan riba, tapi sadar perbuatannya salah, lalu mengundang para asatidz datang ke kantornya, untuk ceramah haramnya transaksi riba. Niatnya sudah ada namun perlu penguatan. Mungkin dia ingin sama-sama karyawanya keluar dari kantor yang penuh riba.
Semua yang begini, kita hormati dan respek, kita dukung dan kita dampingi. Karena kesadaran dan niat sudah ada, kita tinggal memperbesar kesadaran dan niatan itu.
Yang jelas, beda dengan yang kita bahas di depan. Sudahlah salah, malah menyalahkan hukumnya Allah, malah menyalahkan ulama yang membawakan Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan malah menuntut agar syariat Islam disesuaikan dengan nafsunya.
Lalu yang jadi Tuhan siapa? Allah atau manusia?
Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? (QS Al-Furqaan [25]: 43)
Hanya kepada Allah tentu kita menyembah, artinya hanya pada Allah seluruh ketaatan atas peraturan. Kalaulah kita belum bisa melaksanakannya, maka berdoalah semoga kita diberi kemampuan untuk melaksanakannya, dan keseriusan dalam melaksanakannya.
Janganlah kita jadi orang yang menentang, bahkan menjadikan diri kita sebagai pembuat aturan setelah Allah menurunkan syariat yang jelas yaitu Islam. Tugas kita memahami aturan Allah bukan membuat aturan, mencari dalil halal-haram bukan membuat dalil halal-haram.
Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui (QS Al-Jaatsiyah [45]: 18)
Untuk beberapa pembahasan tentang transaksi ekonomi yang saya sebutkan diatas, boleh membaca beberapa artikel dibawah ini, atau silakan cari referensi-referensi lain yang berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
http://konsultasi.wordpress.com/2008/11/20/riba-definisi-hukum-dan-macamnya/
http://konsultasi.wordpress.com/2007/01/13/leasing-sepeda-motor/
http://konsultasi.wordpress.com/2010/01/29/bolehkah-memanfaatkan-kartu-kredit/
http://konsultasi.wordpress.com/2007/09/14/jual-beli-saham-dalam-pandangan-islam/
http://konsultasi.wordpress.com/2012/05/22/hukum-asuransi-syariah/
Disalin dari : http://felixsiauw.com/home/antara-hawa-nafsu-dan-syariat-allah/
Inilah Penyebab Cadel
Mungkin Anda atau disekitar Anda ada yang tidak bisa mengucapkan huruf 'R' dan mengganti dengan 'L' atau huruf 'K' menjadi 'D'. Bisa jadi ia mengalami hal yang disebut cadel.
Cadel ini merupakan ketidakmampuan lidah salah satu yang berperan penting pada saat kita berbicara melafalkan huruf dan kata. Fungsi lidah sangat dipengaruhi oleh kekuatan lidah dan fungsi koordinasi.
Sebab saat kekuatan lidah dan fungsi koordinasi terganggu, maka pelafalan kata atau huruf juga ikut terganggu. Kebanyakan orang mengalami masalah pengucapan huruf ‘R’.
Seseorang yang berbicara cadel pun bisa saja karena pembawaan sejak lahir atau kultur sekitar. Namun juga bisa terjadi karena kerusakan otak yang mengakibatkan terganggunya saraf ke-12 yang memengaruhi lidah.
Kebayakan orang mengira cadel disebabkan lidah yang pendek, tetapi sebenarnya ini disebabkan karena adanya perbedaan pada bagian yang bernama frenulum linguae.
Frenulum linguae dapat dilihat ketika Anda menggerakkan lidah ke atas. Terdapat seperti jaringan yang menghubungkan antara dasar mulut dan lidah. Perbedaan panjang dan pendek frenulum linguae inilah yang menyebabkan lidah sulit bergetar, sehingga pada akhirnya menyebabkan kesulitan pelafalan salah satu jenis huruf.
Menurut dr. Meta Hanindita dari RS Dr Soetomo Surabaya, dikutip dari pemberitaan Detik Health (26/11) cadel merupakan ketidakmampuan seseorang mengucapkan atau membunyikan huruf tertentu. Meta menambahkan, bahwa cadel tidaklah berbahaya dan cadel tidak hanya pada huruf S atau R saja, tapi ada pula huruf T, P, atau L.
Biasanya cadel yang dialami pada anak sampai usia 5 tahun, namun ada pula anak yang masih saja cadel ketika usia persekolahan. Cukup sulitnya mendeteksi cadel anak pada usia 3-5 tahun akan berlanjut atau tidak.
Karena menyangkut sistem saraf otak yang mengatur fungsi bahasa, yakni area broca yang mengatur koordinasi alat-alat vokal dan area wernicke untuk pemahaman terhadap kata-kata.
Ada empat penyebab seseorang menjadi cadel.
Pertama, kurang matangnya koordinasi bibir dan lidah. Kemampuan mengucapkan kata-kata vokal, konsonan secara sempurna sangat bergantung pada kematangan sistem saraf otak, terutama bagian yang mengatur koordinasi motorik otot-otot lidah.
Kedua, kelainan fisiologis berupa gangguan pada bagian pendengaran, gangguan pada otak, dan gangguan di wilayah mulut.
Ketiga, adalah faktor lingkungan. Biasanya orang tua yang membiarkan anaknya cadel, bahkan ikut mengikuti ucapan si anak.
Keempat, faktor psikologis bisa menjadi penyebabnya. Mungkin anak yang kurang perhatian orang tua karena kehadiran sang adik, menjadi ikut-ikutan gaya bicara adik yang cadel.
Dari keempat penyebab cadel tersebut, dapat diatasi dengan cara orang tua harus menuntun anak melafalkan ucapan yang benar, orang tua harus menghentikan kebiasaan berkata cadel, dan orang tua harus mengajak anak bicara dengan bahasa yang benar.
Namun jika penyebab cadel karena faktor fisiologis tentu relatif dapat diatasi, tergantung kategori ringan atau berat. Umumnya bila penyebab masuk dalam kategori berat penyakitnya maka bisa jadi cadel yang menetap dan jika tergolong ringan, maka cadelnya tidak menetap.
Sumber : tribunnews.com
4 Taman Hiburan Terbaik di Asia
Liburan sebentar lagi.... Sudahkah Anda menentukan tempat tujuan liburan Anda? Mungkin 4 taman hiburan terbaik di asia ini bisa menjadi referensi Anda...
1. Universal Studio Singapura


1. Universal Studio Singapura

Tentu saja tempat yang satu ini tak asing lagi bagi mereka yang gemar berlibur bersama teman dan keluarga. Berlokasi di Sentosa Island, Singapura Universal Studio menghadirkan aneka macam permainan yang diambil dari judul-judul film hollywood. Di antaranya seperti Shrek, Revenge of the Mummy, Madagascar, Jurassic Park Rapids Adventure dan masih banyak lagi. Judul film tersebut disulap menjadi wahana yang menyenangkan dan menegangkan.
2. Waterbom Bali
Ingin mencoba serunya bermain air dan segala wahana di dalamnya? Ya, kunjungilah Waterbom Bali. Berstandar internasional, aneka wahana dan pemandangan indah pun ditawarkan di tempat super luas yang satu ini. Waterbom Bali sangat cocok bagi Anda yang ingin berlibur bersama keluarga.
3. Hongkong Disneyland
Ingin bermain di negeri dongeng, ya kunjungilah Hong Kong Disneyland. Taman hiburan luas yang satu ini menghadirkan berbagai macam permainan seru. Mulai dari Toystory Land, Adventureland, Tomorrowland dan masih banyak lagi. Tak hanya permainan saja, namun Hong Kong Disneyland juga menghadirkan dekorasi-dekorasi menarik dari tokoh-tokoh disney sehingga membuat Anda ingin terus kembali dan bermain di tempat ini.
4. Dinosaur Park China
Ingin mencoba sensasi bermain bersama dinosaurus? Ya, Dinosaur Park, China jawabannya. Menapaki taman hiburan yang berlokasi di di Changzhou, Jiangsu, China ini mata dan hati Anda akan dimanjakan dengan aneka wahana anak-anak yang menyenangkan dan patung-patung dinosaurus. Selain itu, Dinosaur Park China juga menyediakan museum dinosaurus, wisata air, tur kota dinosaurus dan masih banyak lagi.
Dikutip dari liputan6.com
Sunday, 23 November 2014
5 Tempat Ibadah Tercantik di Dunia
Sebuah bangunan akan terlihat cantik apabila di desain sedemikian rupa sehingga enak dilihat. Tak hanya bangunan tempat tinggal saja yang harus di desain dengan cantik, tetapi tempat ibadah pun banyak yang diberi sentuhan arsitektur yang menawan., sehingga menambah kekhusyuk-an ibadah kita. Berikut 5 tempat ibadah tercantik di dunia dilansir dari liputan6.com yang dilansir dari Fox News :
1. Borgund Stavechurch, Borgund, Norwegia
Dibangun sekitar tahun 1180, Borgund Stavechurch adalah salah satu gereja kayu kuno terbaik yang ada di Norwegia. Beberapa renovasi dilakukan dengan menambahkan unsur batu pada bangunan untuk mencegah gereja tersebut hancur. Pintu dan bagian atap bangunan ini diukir dengan bentuk naga yang bertujuan untuk mengusir roh jahat.
2. Golden Temple, Amritsar, India
Golden Temple atau yang biasa disebut dengan Sri Harmandir Sahib atau Sri Darbar Sahib adalah tempat suci dalam agama Sikh. Terletak di barat laut India, kuil marmer ini dibangun pada tahun 1601 oleh guru Arjan Sahib. Interior bangunan ini dihiasi dengan permukaan emas timbul dan batu mulia.
3. Great Mosque of Djenne, Djenne, Mali
Masjid yang terletak di negara Mali ini awalnya dibangun pada abad ke-13 dan direkonstruksi ulang pada tahun 1907. Masjid Djenne terbuat dari batu bata lumpur dan jerami yang ditutup dengan plester lumpur dan balok kayu. Setiap tahun, untuk membuat bangunan ini tetap kokoh, para pekerja menambahkan lapisan lumpur baru.
4. Korean Presbyterian Church, Oakland, New Jersey
Ini jadinya jika sebuah gereja bersatu dengan kampus yang diperuntukkan untuk para jemaat gereja. Indah, ya itulah kata yang pantas disematkan untuk bangunan yang satu ini. Dibangun di atas tanah seluas 24 hektar, bangunan ini dilengkapi dengan gereja modern bertingkat, ruang serbaguna beratap kaca, lapangan basket hingga galeri seni. Di malam hari, bangunan ini dipercantik dengan hadirnya cahaya yang muncul di celah bangunan.
5. Pura Taman Ayun, Bali, Indonesia
Ya, pura juga merupakan salah satu tempat ibadah tercantik di dunia. Dibangun pada tahun 1634, Pura Taman Ayun dulunya adalah sebuah kuil kerajaan di Bali. Pura ini dikelilingi oleh parit dan taman indah. Di tempat ibadah umat Hindu ini juga sengaja dibangun pagoda yang tinggi untuk melambangkan keselarasan dengan alam.
Tuesday, 11 November 2014
Filosofi Sebutir Telur
Suatu ketika saya sedang menonton sebuah acara
televisi. Acara tersebut menginspirasi kita sebagai umat muslim untuk melakukan
tetap istiqomah dalam Islam.
Di acara tersebut hadirlah seorang bintang
tamu yang namanya saya lupa, beliau adalah seorang pengusaha yang pada awalnya
pernah mengalami jatuh bangun seperti halnya pengusaha-pengusaha lain. Namun
yang menarik adalah ketika beliau bercerita tentang titik balik kebangkitannya
sehingga sekarang beliau bisa sukses.
Awalnya beliau adalah sosok yang bisa
dikatakan tidak ramah dalam berkomunikasi dengan orang lain, sehingga sempat
usahanya berada dalam jurang kebangkrutan. Kemudian beliau berintrospeksi diri,
sehingga akhirnya beliau menemukan sebuah filosofi dari sebutir telur.
Seperti kita tahu telur dapat dijadikan
sebagai bahan makanan atau lauk pauk. Untuk dapat menikmatinya, tentu kita
harus mengetuk cangkang telur agar isi telurnya dapat kita olah untuk kemudian
kita makan. Selain itu, jika si telur tersebut dierami oleh induknya, atau
disimpan dalam inkubator untuk ditetaskan, maka beberapa minggu kemudian akan lahir
individu baru dari dalam telur tersebut. Lalu apa menariknya?
Mari kita lihat persamaan diantara keduanya. Telur
yang akan dimasak dan ditetaskan, keduanya harus mengalami satu proses yang
sama yaitu mengetuk cangkangnya sampai retak dan terbelah.
Akan tetapi keduanya mempunyai perbedaan.
Telur yang akan dimasak diketuk dari luar, akibatnya cangkang itu hancur dan
isinya dikeluarkan. Cangkangnya dibuang dan isinnya kita makan, yap. Akhirnya
tidak ada yang berbekas dari telur itu. Sedangkan pada kasus telur yang
ditetaskan, cangkang telur diketuk-ketuk dari dalam, kemudian retak dan sebuah
kehidupan baru lahir.
Baiklah, kita cermati maknanya. Proses
pecahnya cangkang telur diibaratkan sebagai sebuah proses perubahan. Ketika
cangkang itu diketuk dari luar, artinya untuk mendapatkan suatu perubahan dalam
diri harus dilakukan atau dipaksa oleh orang lain. Contohnya seorang anak yang
tidak mau sholat kemudian dipaksa oleh orang tuannya untuk sholat, hasilnya
setiap waktu sholat anak tersebut harus dipaksa oleh orang tuanya. Tidak ada yang berbekas dari paksaan-paksaan
tersebut.
Sedangkan telur yang pecah karena menetas itu
diibaratkan seseorang yang berubah karena kesadaran diri. Efeknya muncul
kehidupan yang baru, muncul sosok baru yang lebih baik dari sebelumnya karena
dorongan tersebut datang dari dirinya sendiri.
Faktor-faktor yang menyebabkan perubahan diri
pada seseorang sangat beragam sekali,
tergantung dari masing-masing individu, dan yang paling penting perubahan
tersebut tidak dapat dipaksakan. Terkadang kita sering sekali menemukan
orang-orang yang diminta untuk berubah, menjadi lebih baik. Semua orang-orang
terdekatnya menasehatinya untuk berubah, tapi hasilnya nol. Sedangkan di tempat
dan waktu yang lain, mungkin ada juga orang yang tiba-tiba berubah dengan
sendirinya tanpa ada yang meminta, tanpa ada yang memaksa.
Ketika Kita Mencintai Si Dia Melebihi Cinta Kita Kepada Allah
Apakah kamu merasa mencintai si dia karena Allah?
Cobalah renungkan lagi...
Ketika si dia menelepon, kemudian kita tidak sempat mengangkatnya. Kita merasa sangat bersalah ketika si dia marah. Kemudian kita mati-matian meminta maaf kepadanya.
Tetapi bagaimana ketika Allah “menelepon” kita dengan seruan azan-Nya? Bahkan kita (mungkin) tidak pernah menjawab seruan-Nya. Lalu apakah setelah itu kita mati-matian meminta maaf dan beristighfar kepada-Nya?
Ketika malam minggu tiba, kita bertemu dengan si dia. Memadu kasih, bermesraan dan hingga lupa waktu.
Coba ingat seberapa singkatnya waktu yang kita pergunakan untuk bermesraan dengan Sang Pencipta ketika kita shalat?
Ketika waktu gajian tiba, kamu ajak si dia berbelanja. Kamu turuti permintaannya ini dan itu. Kamu ikuti semua keinginannya, dan kamu jauhi apa yang tidak disukainya.
Dan apakah kamu sudah tunaikan yang wajib? Apakah kamu sudah mengikuti Sunnah Rasulullah SAW? Lalu apakah kamu juga sudah menjauhi apa yang dilarang oleh Allah SWT?
Ketika si dia tiba-tiba diam, tak mau mengangkat teleponmu, tak mau menjawab SMS mu. Seketika kamu langsung berinstrospeksi, mencari-cari kesalahan dirimu untuk meminta maaf kepadanya.
Namun tiba-tiba rezekimu sempit, usahamu pailit, dan perutmu melilit karena lapar. Kemudian kamu marah kepada Tuhan karena hidup ini tak adil. Mungkinkah Tuhan sedang marah? Mungkinkah Tuhan sedang menunggumu berinstrospeksi dan meminta maaf kepada-Nya?
Sekali lagi, apakahh kamu sudah yakin kamu mencintai si dia karena Allah? Apa kamu sudah yakin kamu sudah menempatkan Allah sebagai cinta tertinggimu?
Ketahuilah, Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan untuk menyempurnakan agama dan ibadah kita. Kita terlena dengan gemerlapnya kehidupan dunia, kita terpesona dengan keelokan parasnya, kita tersentuh karena kelembutan hatinya. Tapi sadarkah kita bahwa dia ada di sisi kita atas izin Allah? Dia dihadirkan untukmu agar saling mengingatkan bahwa hidup di dunia ini hanya sementara.
Coba kita renungkan, ketika kita menikah dan duduk di pelaminan. Siapa orang yang paling dekat duduknya dengan kita? Tentu kekasih kita, pasangan hidup kita. Kemudian orang-orang yang kita sayangi dan menyayangi kita, orang tua dan keluarga dekat kita.
Lalu siapakah orang-orang yang kamu undang di pesta pernikahanmu? Tentu orang-orang yang kau kenal dan mengenalmu, yang sering menyapamu. Bagaimmana dengan orang yang sama sekali tidak pernah mengenalmu, tidak pernah menyapamu, bahkan tidak pernah mengingat namamu? Tentu tidak akan kamu undang.
Begitupun ketika Allah memanggil kita, menuju alam akhirat. Yang akan berada didekat-Nya adalah mereka yang menyayangi-Nya, mereka yang selalu mengingat nama-Nya dalam dzikir, mereka yang selalu menyapa-Nya dalam shalat, mereka yang rela berkorban untuk berjuang di jalan-Nya.
Semoga bermanfaat...



