Tuesday, 11 November 2014
Rekening Dalam Akuntansi
Dalam akuntansi, pencatatan dilakukan dengan menggunakan rekening,
akun, atau perkiraan. Perkiraan/rekening/akun adalah formulir khusus yang
digunakan untuk mencatat dan menggolongkan transaksi sejenis. Contoh rekening
dalam akuntansi adalah sebagai berikut:
1.
Aktiva. Yaitu semua kekayaan yang dimiliki perusahaan, misalnya gedung,
tanah, perlengkapan kantor, mesin-mesin, kendaraan, piutang, investasi modal,
dan sebagainya. Berdasarkan jangka waktu pencairannya, aktiva digolongkan
menjadi aktiva lancar dan aktiva tetap.
a.
Aktiva Lancar. Yaitu kekayaan perusahaan yang dapat dijadikan uang tunai dalam
jangka pendek (1 tahun atau kurang dari 1 tahun). Contoh:
1)
Kas. Yaitu aktiva berwujud uang yang digunakan untuk operasi
perusahaan.
2)
Bank. Aktiva berwujud uang yang disimpann di Bank yang digunakan untuk
operasi perusahaan.
3)
Piutang usaha. Yaitu tagihan perusahaan kepada konsumen atau pelanggan karena
telah menjual barang atau jasa secara kredit.
4)
Biaya dibayar
dimuka. Yaitu biaya yang dibayar dimuka
(misal: sewa gedung dibayar untuk 1 tahun kedepan, biaya sewanya sudah dibayar
tetapi manfaatnya belum dirasakan).
5)
Persediaan
barang dagang. Yaitu barang
dagang yang disimpan dengan tujuan untuk dijual kembali.
b.
Aktiva Tetap. Yaitu kekayaan perusahaan yang digunakan dalam jangka waktu lama
untuk operasi perusahaan. Contoh:
1)
Harga
perolehan. Yaitu semua pengeluaran untuk membeli
atau mendapatkan aktiva. Misalnya harga perolehan gedung, yaitu seluruh biaya
yang dikeluarkan untuk membeli gedung, termasuk biaya administrasi, pajak, dan
lain-lain.
2)
Akumulasi
depresiasi. Yaitu jumlah
penyusutan nilai aktiva karena digunakan untuk operasi perusahaan. Misalnya
akumulasi depresiasi gedung, nilai gedung akan berkurang setiap bulannya karena
gedung digunakan dan kondisi fisiknya menurun sehingga nilai aktivanya menjadi
turun.
2.
Kewajiban. Yaitu tanggungan perusahaan atau hutang yang akan dibayar pada
waktu yang akan datang. Kewajiban digolongkan sebagai berikut:
a.
Kewajiban
Lancar. Yaitu kewajiban atau hutang yang
pembayarannya dilakukan dalam jangka
pendek (kurang dari 1 tahun). Contoh:
1)
Hutang dagang. Yaitu hutang yang terjadi karena pembelian barang dagang secara
kredit.
2)
Hutang gaji. Yaitu hutang yang terjadi karena perusahaan belum membayar gaji
karyawan atau pegawai lain yang seharusnya sudah diterima.
3)
Pendapatan
diterima dimuka. Yaitu
pembayaran dari pelanggan atau konsumen yang dibayar dimuka. Misalnya konsumen
memberikan uang muka untuk membeli barang dari perusahaan, sementara barangnya
belum diterima oleh konsumen.
4)
Hutang PPN. Yaitu kewajiban perusahaan untuk membayar PPN yang terutang ke kas
negara atas nilai barang dagang yang dibeli dan dijual. Dalam hal ini hutang
PPN diperoleh dari selisih antara PPN keluaran dikurangi PPN masukan. PPN
keluaran adalah PPN yang dipungut oleh perusahaan karena menjual barang dagang
atau jasa kena pajak, sedangkan PPN masukan adalah PPN yang dibayar oleh perusahaan
karena membeli barang dagang atau jasa kena pajak.
b.
Kewajiban
Jangka Panjang. Yaitu
kewajiban atau hutang yang pembayarannya dilakukan dalam jangka panjang (lebih
dari 1 tahun). Contoh:
1)
Hutang Bank. Yaitu hutang yang terjadi karena perusahaan meminjam uang kepada
Bank untuk modal usaha ataupun untuk ooperasional.
2)
Kredit
investasi. Pembayaran secara kredit untuk
investasi.
3.
Modal. Yaitu kewajiban yang timbul kepada pemilik perusahaan atau penanam
modal atas uang atau barang yang disetor ke perusahaan. Contoh:
a.
Modal Sendiri. Yaitu modal yang ditanam oleh pemilik perusahaan. Contoh: Modal
Tn. A, Modal Tn. B.
b.
Prive. Yaitu pengambilan uang perusahaan oleh pemilik perusahaan untuk
keperluan pribadi.
4.
Pendapatan. Yaitu penghasilan yang diterima oleh perusahaan dari usaha pokok.
Sedangkan segala penerimaan yang diperoleh selain dari kegiatan pokok
perusahaan biasa disebut dengan pendapatan lain-lain, seperti pendapatan bunga
bank, laba penjualan aktiva, dan lain-lain.
5.
Biaya. Yaitu pengeluaran uang oleh perusahaan untuk operasional
perusahaan atau merupakan pembebanan atas aktiva. Contohnya biaya sewa gedung,
biaya gaji, biaya listrik, dan lain-lain. Sedangkan segala bentuk pengeluaran
oleh perusahaan untuk membayar selain dari kegiatan pokok perusahaan biasa
disebut dengan biaya lain-lain, seperti biaya bunga bank, biaya pajak
pendapatan bank, dan sebagainya.
6.
Penjualan. Untuk perusahaan dagang, biasanya ditambahkan rekening penjualan
untuk mencatat pendapatan yang diperoleh dari hasil penjualan barang dagang.
7.
Pembelian. Digunakan pada perusahaan dagang untuk mencatat pengeluaran yang
terjadi karena pembelian barang dagang yang digunakan untuk kegiatan pokok
perusahaan.
8.
Retur
Penjualan. Rekening yang digunakan untuk
mencatat retur penjualan, terjadi ketika konsumen mengembalikan barang yang
sudah dibeli kepada perusahaan karena rusak atau lain sebagainya.
9.
Retur
Pembelian. Rekening yang digunakan untuk
mencatat reur pembelian, terjadi ketika perusahaan mengembalikan barang yang
sudah dibeli kepada pemasok.
Contoh Daftar Rekening
|
Reff
|
Nama Rekening
|
Klasifikasi
|
Keterangan
|
|
1101
|
Kas
|
Aktiva Lancar
|
|
|
1102
|
Kas Kecil
|
Aktiva Lancar
|
|
|
1103
|
Bank BCA
|
Aktiva Lancar
|
|
|
1104
|
Piutang
Dagang
|
Aktiva Lancar
|
|
|
1105
|
Biaya Sewa
Dibayar Dimuka
|
Aktiva Lancar
|
|
|
1106
|
Persediaan
Barang Dagang
|
Aktiva Lancar
|
|
|
1107
|
Perlengkapan
Kantor
|
Aktiva Lancar
|
|
|
1201
|
Gedung Kantor
|
Aktiva Tetap
|
|
|
1202
|
Kendaraan
|
Aktiva Tetap
|
|
|
1203
|
Peralatan
Usaha
|
Aktiva Tetap
|
|
|
1301
|
Akumulasi
Depr. Gedung
|
Depresiasi
|
|
|
1302
|
Akumulasi
Depr. Kendaraan
|
Depresiasi
|
|
|
1303
|
Akumulasi
Depr. Peralatan
|
Depresiasi
|
|
|
2101
|
Hutang Dagang
|
Hutang Lancar
|
|
|
2102
|
Hutang
Lain-lain
|
Hutang Lancar
|
|
|
2201
|
Hutang Bank
|
Hutang Tetap
|
|
|
2202
|
Hutang Jk.
Panjang Lain-lain
|
Hutang Tetap
|
|
|
3101
|
Modal Pemilik
|
Modal
|
|
|
3102
|
Prive
|
Modal
|
|
|
4101
|
Pendapatan
Jasa
|
Pendapatan
|
|
|
4102
|
Pendapatan
Bunga Bank
|
Pendapatan
|
|
|
4103
|
Pendapatan
Lain-lain
|
Pendapatan
|
|
|
4201
|
Ikhtisar
Laba/Rugi
|
Ikhtisar
Laba/Rugi
|
|
|
5101
|
Biaya Gaji
|
Biaya
|
|
|
5102
|
Biaya Listrik
dan Telepon
|
Biaya
|
|
|
5103
|
Biaya Bunga
|
Biaya
|
|
|
5104
|
Biaya Sewa
|
Biaya
|
|
|
5105
|
Biaya
Lain-lain
|
Biaya
|
|
|
6101
|
Penjualan
Barang Dagang
|
Penjualan
|
|
|
6102
|
Retur
Penjualan
|
Penjualan
|
|
|
6103
|
Potongan Penjualan
|
Penjualan
|
|
|
7101
|
Pembelian
|
Pembelian
|
|
|
7102
|
Retur
Pembelian
|
Pembelian
|
|
|
7103
|
Potongan
Pembelian
|
Pembelian
|
|
|
7104
|
Biaya Angkut
Pembelian
|
Pembelian
|
|
Konsep Dasar Akuntansi
Berkesinambungan (going concern).
Adalah suatu kesatuan ekonomi diasumsikan akan terus melanjutkan
usahanya dan tidak akan dibubarkan kecuali bila ada bukti sebaliknya.
Periode akuntansi (periodicity).
Maksudnya bahwa perlunya pembagian kegiatan dalam periode sehingga
perkembangan perusahaan dapat dicatat secara periodik. Perlunya informasi
akuntansi secara periodik untuk perencanaan perusahaan.
Kesatuan akuntansi (bussiness entity concept).
Adanya pemisahan perusahaan dari pemilik. Pemisahan ini diperlukan
untuk membedakan antara harta kekayaan milik pribadi dengan harta kekayaan
milik perusahaan.
Pengukuran dalam nilai uang (money as unit of measurement).
Akuntansi keuangan menggunakan uang sebagai nilai nominal dalam
pengukuran aktiva, utang dan perubahannya.
Harga pertukaran (historical cost).
Akuntansi mengasumsikan bahwa harga yang disetujui pada saat
terjadinya suatu transaksi ditentukan secara obyektif oleh pihak-pihak yang
bersangkutan didukung oleh bukti yang dapat diperiksa kelayakannya oleh pihak
bebas (netral) dan karenanya merupakan dasar paling tepat untuk pencatatan
akuntansi.
Penetapan
beban dan pendapatan (matching cost againts revenue).
Laba
ditentukan berdasarkan metode aktual yakni dikaitkan dengan pengukuran aktiva
dan kewajiban serta perubahannya pada saat terjadinya penentuan laba periodik
pada dasarnya menyangkut 2 masalah yaitu pengakuan pendapatan selama periode
dan penentuan beban yang terjadi sehubungan dengan usaha untuk menghasilkan
pendapatan tersebut.
Sejarah Akuntansi
Akuntansi sebenarnya sudah ada sejak manusia sudah bisa membuat
catatan dan menghitung, saat itu catatan ditulis dalam kayu, batu, atau daun.
Selanjutnya tahap-tahap perkembangan akuntansi sebagai berikut:
1.
Perdagangan
yang dimulai pada abad XV oleh pedagang Venezia menyebabkan adanya tatanan
sistem pencatatan dalam berdagang.
2.
Pada tahun 1494
seorang bernama Lucas Pacioli yitu seorang ahli matematika telah mengarang buku
berjudul ‘Summa de Aritmatica, Geometrica, Proportioni et Proportionalita’,
pada bagian buku terdapat sub judul ‘Tractatus de Computies et Screptoria’
yang membahas khusus dasar-dasar Akuntansi dan dikembang lagi dengan judul ‘La
Scoula Perfecta de Mercanti’ yang diterbitkan oleh penerbit Paganini.
3.
Pada abad
XVIII, terjadi revolusi industri di Inggris yang mendorong perkembangan
akuntansi, karena banyaknya industri pada waktu itu yang memerlukan pencatatan
biaya produksi, sehingga mulai berkembanglah akuntansi biaya.
4.
Waktu demi
waktu perkembangan semakin cepat dengan adanya pencatatan yang sistematis dan
lengkap, sebelum teknologi komputer belum begitu maju maka pencatatan banyak
menggunakan buku catatan akuntansi, tapi seiring majunya teknologi
komputerisasi seperti sekarang ini sudah banyak pencatatan dengan komputer,
bahkan kini sudah banyak perusahaan-perusahaan yang menciptakan software
aplikasi akuntansi seperti MYOB Accounting, Accurate Accounting,
dan sebagainya, ditambah banyaknya program lokal yang dirancang khusus untuk
menangani suatu jenis perusahaan atau suatu usaha tertentu dengan disesuaikan
kebutuhan perusahaan tersebut. Selain itu tersedia program Spredsheet
seperti Microsoft Excel yang dapat mempermudah pencatatan akuntansi
dengan menggunakan kolom-kolom, formula, dan fungsi-fungsi tertentu.
Pengertian Akuntansi
Akuntansi berasal dari kata asing accounting, yaitu proses
mencatat, menggolongkan, mengikhtisarkan, dan menyajikan laporan-laporan
keuangan perusahaan secara sistematis. Secara singkat, akuntansi adalah proses
pencatatan transaksi keuangan dengan cara yang sistematis yang diakhiri dengan
laporan keuangan. Transaksi keuangan dapat berupa pembelian, penjualan,
pengeluaran uang, penerimaan uang, dan sebagainya. Proses mencatat pada
akuntansi, yaitu pencatatan dan transaksi dengan menggunakan bukti-bukti
seperti nota, kwitansi, faktur dan lain-lain.
Proses penggolongan, yaitu pencatatan ke dalam jurnal berdasar
bukti-bukti transaksi dengan menggolongkan perkiraan mana yang di debet dan
yang di kredit, selanjutnya diposting ke buku besar. Proses pengikhtisaran,
yaitu meringkas perkiraan yang sama untuk dijadikan satu jumlahnya di dalam
neraca saldo. Penyajian laporan keuangan, yaitu menyajikan hasil pencatatan
akuntansi berupa neraca, laba rugi, laporan perubahan modal, dan sebagainya.
Tujuan dan fungsi dari akuntansi adalah untuk menyajikan informasi
ekonomi dari suatu kesatuan ekonomi kepada pihak-pihak yang berkepentingan
(pemakai informasi akuntansi).
Pemakai akuntansi dibedakan menjadi pihak intern dan pihak ekstern.
Pihak intern adalah pihak yang berada di dalam perusahaan atau lembaga
seperti, pimpinan perusahaan, manajer, dan karyawan. Sedangkan pihak ekstern
adalah pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan atau lembaga tetapi berada
di luar perusahaan, seperti pemilik perusahaan atau pemegang saham, investor,
bank sebagai pemberi pinjaman (kreditur), dan pemerintah.
Akuntansi dibagi ke dalam beberapa bidang, diantaranya:
1.
Akuntansi
keuangan
2.
Auditing
3.
Akuntansi biaya
4.
Akuntansi
manajemen
5.
Akuntansi pajak
6.
Sistem
akuntansi
7.
Akuntansi
anggaran
8.
Akuntansi
lembaga nonprofit
9.
Akuntansi
internasional
10.
Akuntansi
sosial
11.
Akuntansi
pendidikan
DP BBM Part #3 - Edisi gombal
dari berbagai sumber
Rahasia Dasar Mengelola Keuangan dari Rasulullah
Dengan langkah gontai, laki-laki itu datang menghadap Rasulullah. Ia sedang didera problem finansial; tak bisa memberikan nafkah kepada keluarganya. Bahkan hari itu ia tidak memiliki uang sepeserpun.
Dengan penuh kasih, Rasulullah mendengarkan keluhan orang itu. Lantas beliau bertanya apakah ia punya sesuatu untuk dijual. “Saya punya kain untuk selimut dan cangkir untuk minum ya Rasulullah,” jawab laki-laki itu.
Rasulullah pun kemudian melelang dua barang itu. “Saya mau membelinya satu dirham ya Rasulullah,” kata salah seorang sahabat.
“Adakah yang mau membelinya dua atau tiga dirham?” Inilah lelang pertama dalam Islam. Dan lelang itu dimenangkan oleh seorang sahabat lainnya.
“Saya mau membelinya dua dirham”
“Adakah yang mau membelinya dua atau tiga dirham?” Inilah lelang pertama dalam Islam. Dan lelang itu dimenangkan oleh seorang sahabat lainnya.
“Saya mau membelinya dua dirham”
Rasulullah memberikan hasil lelang itu kepada laki-laki tersebut. “Yang satu dirham engkau belikan makanan untuk keluargamu, yang satu dirham kau belikan kapak. Lalu kembalilah ke sini.”
Setelah membelikan makanan untuk keluarganya, laki-laki itu datang kembali kepada Rasulullah dengan sebilah kapak di tangannya. “Nah, sekarang carilah kayu bakar dengan kapak itu…” demikian kira-kira nasehat Rasulullah. Hingga beberapa hari kemudian, laki-laki itu kembali menghadap Rasulullah dan melaporkan bahwa ia telah mendapatkan 10 dirham dari usahanya. Ia tak lagi kekurangan uang untuk menafkahi keluarganya.
Salman Al Farisi punya rumus 1-1-1. Bermodalkan uang 1 dirham, ia membuat anyaman dan dijualnya 3 dirham. 1 dirham ia gunakan untuk keperluan keluarganya, 1 dirham ia sedekahkan, dan 1 dirham ia gunakan kembali sebagai modal. Sepertinya sederhana, namun dengan cara itu sahabat ini bisa memenuhi kebutuhan keluarganya dan bisa sedekah setiap hari. Penting dicatat, sedekah setiap hari.
Nasehat Rasulullah yang dijalankan oleh laki-laki di atas dan juga amalan Salman Al Farisi memberikan petunjuk kepada kita cara dasar mengelola keuangan. Yakni, bagilah penghasilan kita menjadi tiga bagian; satu untuk keperluan konsumtif, satu untuk modal dan satu untuk sedekah. Pembagian ini tidak harus sama persis seperti yang dilakukan Salman Al Farisi.
KEPERLUAN KONSUMTIF
Untuk soal ini, rasanya tidak perlu diperintahkan pun orang pasti melakukannya. Bahkan banyak orang yang menghabiskan hampir seluruh penghasilannya untuk keperluan konsumtif. Tidak sedikit yang malah terjebak pada masalah finansial karena terlalu menuruti keinginan konsumtif hingga penghasilannya tak tersisa, bahkan akhirnya minus.
Yang perlu menjadi catatan, bagi seorang suami, membelanjakan penghasilan untuk keperluan konsumtif artinya adalah memberikan nafkah kepada keluarganya. Jangan sampai seperti sebagian laki-laki yang menghabiskan banyak uang untuk rokok dan ke warung, sementara makanan untuk anak dan istrinya terabaikan.
MODAL
Sisihkanlah penghasilan atau uang Anda untuk modal. Bahkan, kalaupun Anda adalah seorang karyawan atau pegawai. Sisihkanlah setiap bulan gaji Anda untuk menjadi modal atau membeli aset. Menurut Robert T. Kyosaki, inilah yang membedakan orang-orang kaya dengan orang-orang kelas menengah dan orang miskin. Orang kaya membeli aset, orang kelas menengah dan orang miskin menghabiskan uangnya untuk keperluan konsumtif. Dan seringkali orang kelas menengah menyangka telah membeli aset, padahal mereka membeli barang konsumtif; liabilitas.
Aset adalah modal atau barang yang menghasilkan pemasukan, sedangkan liabilitas adalah barang yang justru mendatangkan pengeluaran. Barangnya bisa jadi sama, tetapi yang satu aset, yang satu liabilitas. Misalnya orang yang membeli mobil dan direntalkan. Hasil rental lebih besar dari cicilan. Ini aset. Tetapi kalau seseorang membeli mobil untuk gengsi-gengsian, ia terbebani dengan cicilan, biaya perawatan dan lain-lain, ini justru menjadi liabilitas. Robert T Kiyosaki menemukan, mengapa orang-orang kelas menengah sulit menjadi orang kaya, karena berapapun gaji atau penghasilan mereka, mereka menghabiskan gaji itu dengan memperbesar cicilan. Berbeda dengan orang yang membeli aset atau modal yang semakin lama semakin banyak menambah kekayaan mereka.
Jangan dianggap bahwa aset atau modal itu hanya yang terlihat, tangible. Ada pula yang tak terlihat, intangible. Contohnya ilmu dan skill. Jika Anda adalah tipe profesional, meningkatkan kompetensi dan skill adalah bagian dari modal, bagian dari aset. Dengan kompetensi yang makin handal, nilai Anda meningkat. Penghasilan juga meningkat.
SEDEKAH
Jangan lupa sisihkan penghasilan Anda untuk sedekah. Mengapa? Sebab ia adalah bekal untuk kehidupan yang hakiki di akhirat nanti. Baik sedekah wajib berupa zakat maupun sedekah sunnah.
Apa yang dilakukan Salman Al Farisi adalah amal yang luar biasa. Ia bersedekah senilai apa yang menjadi keperluan konsumtif keluarganya. Jadi kita kita punya gaji atau penghasilan tiga juta, lalu kebutuhan konsumtif keluarga kita satu juta, kita baru bisa menandingi Salman Al Farisi jika bersedekah satu juta pula. Namun karena ada hadits Rasulullah yang menyebutkan bahwa sedekah satu bukit tidak dapat menyamai sedekah satu mud para sahabat, kita tak pernah mampu menandingi sedekah Salman Al Farisi.
Harta sejati kita yang bermanfaat di akhirat nanti adalah apa yang kita sedekahkan. Lalu mengapa kita membagi penghasilan kita menjadi tiga bagian; konsumsi, modal dan sedekah? Mengapa tidak semuanya disedekahkan? Sebab konsumsi dan modal sesungguhnya juga pendukung sedekah kita. Jika keperluan konsumsi kita terpenuhi, maka fisik kita relatif lebih sehat. Dengan fisik yang sehat, kita bisa beribadah dan bekerja yang sebagian hasilnya untuk sedekah. Mengapa perlu mengalokasikan untuk modal/aset? Karena ia akan semakin memperbesar pemasukan kita dan dengannya kita menjadi lebih mudah untuk bersedekah dalam jumlah lebih besar dan juga lebih banyak beramal.
Oleh : Muchlisin BK
Dikutip dari : http://keluargacinta.com/rahasia-dasar-mengelola-keuangan-dari-rasulullah/
Ciri-ciri Aplikasi Android yang Berbahaya
| Android |
Android ternyata termasuk salah satu operating system yang cukup mudah untuk disusupi oleh aplikasi-aplikasi berbahaya.Tidak jarang aplikasi-aplikasi berbahaya tersebut menyebabkan kerusakan yang cukup fatal pada gadget Anda.
Berikut merupakan beberapa ciri aplikasi-aplikasi yang "dicurigai" berbahaya bagi keberlangsungan gadget Anda dikutip dari ciricara.com
1. Bukan dari Google Play Store
Tempat yang paling aman untuk mengunduh aplikasi Android adalah Google Play Store. Jika Anda selama ini sering mengunduh/download aplikasi di situs online lainnya, kemungkinan aplikasi tersebut menyimpan virus. Saat ini memang banyak situs yang menyediakan aplikasi file APK untuk Android, namun hal ini bisa menjadi sumber virus.
2. Izin pemasangan aplikasi aneh
Jika menginstal aplikasi dengan file APK dari situs lain, Anda perhatikan izin pemasangan aplikasinya sebelum disetujui. Lihat apakah aplikasi tersebut meminta izin yang aneh-aneh, seperti koneksi internet, membaca kontak, dll. Jika iya, itu ciri kalau kemungkinan aplikasi tersebut berbahaya.
3. Jumlah instalasi sedikit dan rating rendah
Anda perhatikan jumlah orang yang sudah menginstal aplikasi tersebut. Jika aplikasi itu sudah diinstal jutaan orang tapi punya rating (bintang) rendah, itu bisa jadi tanda aplikasi tersebut tidak berkualitas dan bisa jadi berbahaya untuk smartphone Android Anda.
4. Ulasan yang jelek
Baca juga ulasan dari orang-orang yang sudah pernah menginstal aplikasi tersebut. Jika banyak ulasan menunjukkan bahwa aplikasi tersebut tidak bagus, sebaiknya Anda jangan coba-coba untuk menginstalnya. Bisa jadi aplikasi tersebut mengandung virus.
5. Deskripsi aplikasi tidak jelas
Sebelum menginstal, perhatikan dan baca baik-baik deskripsi aplikasi yang akan diinstal. Jika dalam penjelasan tersebut terdapat banyak kesalahan tulis, tanda baca, dll, kemungkinan aplikasi tersebut abal-abal. Bisa jadi aplikasi itu dibuat oleh orang tidak bertanggungjawab untuk menyebarkan virus atau malware-nya ke pengguna smartphone.
Nah, sudah tahu kan ciri-cirinya? Mulai sekarang berhati-hatilah dalam menginstal aplikasi bagi gadget Anda.