Showing posts with label keuangan. Show all posts
Showing posts with label keuangan. Show all posts
Saturday, 29 November 2014
Cara Mendapatkan Uang dari Blog : Masih Bikin Gue Bingung
Salah satu keyword paling diminati di google search adalah "cara mendapatkan uang dari blog", itu favorit banget deh kayanya. Satu persatu link-link bernada serupa gue ikutin. Sampe gue coba buat daftar di google adsense. Tapi apa coba hasilnya? Gie bingung sendiri, google adsense lah, kampanye lah, pengiklan lah, bla bla bla. Maklum lah gue pemula, obsesinya masih tinggi tapi ilmunya masih cetek. Yang ada di otak cuma bagaimana cara mendapatkan uang?
Tapi dari beberapa link yang gue ikutin dari obsesi gue itu gue menyimpulkan beberapa hal.
Harus Go Blog, Jangan Goblok!
Secara blog gue pengunjungnya masih bisa diitung jari, gimana mau banyak wong artikelnya rujukan semua. Jujur gue bukan seorang penulis dan mungkin ga bakat jadi penulis. Nilai mengarang Bahasa Indonesia waktu SMA aja pas-pasan. Sedangkan untuk mendapatkan pengunjung blog yang banyak seorang blogger dituntut (sama diri sendiri) untuk membuat tulisan yang dapat menarik banyak pengunjung blog. Ya tapi da aku mah apa atuh? Ngetik aja tulisannya kaya cakar ayam. Tapi persetan dengan semua itu, gue jalani aja sebisanya. Gue gunakan blog gue sebagai ajang pembelajaran, latihan menulis, portal iinformasi, dan just for fun! Karena semua hal besar itu dimulai dari hal yang kecil.
Pede Sama Karya Sendiri
Nah ini nih, kadang gue ngerasa ga pede buat publish tulisan-tulisan gue. Akhirnya ratusan kalimat itu hanya tersimpan di notepad dan word aja tanpa pernah berani gue publish. Jadinya apa? Blog gue setahun lebih vacum, ga ada tulisan, ga ada artikel, ya mati suri aja gitu. Bukan karena gue ga mau ngeblog lagi, tapi karena waktu itu gue pindah kosan dan ga ada akses internet yang mumpuni buat blogging. Paling banter nyadap wifi tetangga. Setelah gue pasang koneksi internet sendiri yang cukup stabil baru lah gue mulai publish beberapa tulisan gue, Walaupun perlu waktu beberapa hari untuk cukup pede buat publish itu, tarik ulur tarik ulur.
Promosi, Promosi, Promosi!
Setelah cukup pede buat publish beberapa tulisan gue, ternyata pengunjung blog gue masih segitu-gitu aja. Ya ialah masalahnya gue masih ngerasa GA PEDE buat promosi, blog gue artikelnya masih dikit, kontennya kurang menarik, blablabla. Ini masalah akut gue, ga bisa marketing. Karena itulah gue ga tahan lama jadi marketing dulu. Tapi entah gimana caranya dalam sebulan kedepan gue harus bisa meningkatkan trafic pengunjung blog gue.
Iklan = Uang
Hal yang jadi primadona di artikel ini, iklan dan uang. Keduanya sangat saling berkaitan di dunia blogging. Secara garis besarnya kalo blog gue udah rame, gue harus bikin space buat para pengiklan, dimana mereka akan memasang iklan produk mereka di blog gue. Ada berbagai macam sistem yang bisa digunakan dalam hal ini, seperti promosi (biasanya dilakukan jika kita kenal dengan pengiklan), menggunakan jasa afiliasi, bertukar link, dan lain-lain. Penyedia jasa pengiklan akan memberikan komisi kepada blogger jika iklan yang ditayangkan dikunjungi oleh pengunjungnya, setelah nomonal tertenu uang komisi tersebut akan ditransfer.
Mentor
Yang terakhir ini yang belum gue punya. Sebanyak apapun rujukan artikel yang udah gue baca gue masih bingung. Gue masih takut terjebak kalo gue harus membayarkan sejumlah uang tertentu untuk menjadi pengiklann. Tapi gue sendiri masih belum mendapatkan orang yang tepat untuk gue jadikan mentor dalam hal blogging.
Buat sementara ini target gue adalah bagaimana cara meningkatkan jumlah pengunjug di blog gue, dengan cara yang gue bisa. MU
Tuesday, 11 November 2014
Rahasia Dasar Mengelola Keuangan dari Rasulullah
Dengan langkah gontai, laki-laki itu datang menghadap Rasulullah. Ia sedang didera problem finansial; tak bisa memberikan nafkah kepada keluarganya. Bahkan hari itu ia tidak memiliki uang sepeserpun.
Dengan penuh kasih, Rasulullah mendengarkan keluhan orang itu. Lantas beliau bertanya apakah ia punya sesuatu untuk dijual. “Saya punya kain untuk selimut dan cangkir untuk minum ya Rasulullah,” jawab laki-laki itu.
Rasulullah pun kemudian melelang dua barang itu. “Saya mau membelinya satu dirham ya Rasulullah,” kata salah seorang sahabat.
“Adakah yang mau membelinya dua atau tiga dirham?” Inilah lelang pertama dalam Islam. Dan lelang itu dimenangkan oleh seorang sahabat lainnya.
“Saya mau membelinya dua dirham”
“Adakah yang mau membelinya dua atau tiga dirham?” Inilah lelang pertama dalam Islam. Dan lelang itu dimenangkan oleh seorang sahabat lainnya.
“Saya mau membelinya dua dirham”
Rasulullah memberikan hasil lelang itu kepada laki-laki tersebut. “Yang satu dirham engkau belikan makanan untuk keluargamu, yang satu dirham kau belikan kapak. Lalu kembalilah ke sini.”
Setelah membelikan makanan untuk keluarganya, laki-laki itu datang kembali kepada Rasulullah dengan sebilah kapak di tangannya. “Nah, sekarang carilah kayu bakar dengan kapak itu…” demikian kira-kira nasehat Rasulullah. Hingga beberapa hari kemudian, laki-laki itu kembali menghadap Rasulullah dan melaporkan bahwa ia telah mendapatkan 10 dirham dari usahanya. Ia tak lagi kekurangan uang untuk menafkahi keluarganya.
Salman Al Farisi punya rumus 1-1-1. Bermodalkan uang 1 dirham, ia membuat anyaman dan dijualnya 3 dirham. 1 dirham ia gunakan untuk keperluan keluarganya, 1 dirham ia sedekahkan, dan 1 dirham ia gunakan kembali sebagai modal. Sepertinya sederhana, namun dengan cara itu sahabat ini bisa memenuhi kebutuhan keluarganya dan bisa sedekah setiap hari. Penting dicatat, sedekah setiap hari.
Nasehat Rasulullah yang dijalankan oleh laki-laki di atas dan juga amalan Salman Al Farisi memberikan petunjuk kepada kita cara dasar mengelola keuangan. Yakni, bagilah penghasilan kita menjadi tiga bagian; satu untuk keperluan konsumtif, satu untuk modal dan satu untuk sedekah. Pembagian ini tidak harus sama persis seperti yang dilakukan Salman Al Farisi.
KEPERLUAN KONSUMTIF
Untuk soal ini, rasanya tidak perlu diperintahkan pun orang pasti melakukannya. Bahkan banyak orang yang menghabiskan hampir seluruh penghasilannya untuk keperluan konsumtif. Tidak sedikit yang malah terjebak pada masalah finansial karena terlalu menuruti keinginan konsumtif hingga penghasilannya tak tersisa, bahkan akhirnya minus.
Yang perlu menjadi catatan, bagi seorang suami, membelanjakan penghasilan untuk keperluan konsumtif artinya adalah memberikan nafkah kepada keluarganya. Jangan sampai seperti sebagian laki-laki yang menghabiskan banyak uang untuk rokok dan ke warung, sementara makanan untuk anak dan istrinya terabaikan.
MODAL
Sisihkanlah penghasilan atau uang Anda untuk modal. Bahkan, kalaupun Anda adalah seorang karyawan atau pegawai. Sisihkanlah setiap bulan gaji Anda untuk menjadi modal atau membeli aset. Menurut Robert T. Kyosaki, inilah yang membedakan orang-orang kaya dengan orang-orang kelas menengah dan orang miskin. Orang kaya membeli aset, orang kelas menengah dan orang miskin menghabiskan uangnya untuk keperluan konsumtif. Dan seringkali orang kelas menengah menyangka telah membeli aset, padahal mereka membeli barang konsumtif; liabilitas.
Aset adalah modal atau barang yang menghasilkan pemasukan, sedangkan liabilitas adalah barang yang justru mendatangkan pengeluaran. Barangnya bisa jadi sama, tetapi yang satu aset, yang satu liabilitas. Misalnya orang yang membeli mobil dan direntalkan. Hasil rental lebih besar dari cicilan. Ini aset. Tetapi kalau seseorang membeli mobil untuk gengsi-gengsian, ia terbebani dengan cicilan, biaya perawatan dan lain-lain, ini justru menjadi liabilitas. Robert T Kiyosaki menemukan, mengapa orang-orang kelas menengah sulit menjadi orang kaya, karena berapapun gaji atau penghasilan mereka, mereka menghabiskan gaji itu dengan memperbesar cicilan. Berbeda dengan orang yang membeli aset atau modal yang semakin lama semakin banyak menambah kekayaan mereka.
Jangan dianggap bahwa aset atau modal itu hanya yang terlihat, tangible. Ada pula yang tak terlihat, intangible. Contohnya ilmu dan skill. Jika Anda adalah tipe profesional, meningkatkan kompetensi dan skill adalah bagian dari modal, bagian dari aset. Dengan kompetensi yang makin handal, nilai Anda meningkat. Penghasilan juga meningkat.
SEDEKAH
Jangan lupa sisihkan penghasilan Anda untuk sedekah. Mengapa? Sebab ia adalah bekal untuk kehidupan yang hakiki di akhirat nanti. Baik sedekah wajib berupa zakat maupun sedekah sunnah.
Apa yang dilakukan Salman Al Farisi adalah amal yang luar biasa. Ia bersedekah senilai apa yang menjadi keperluan konsumtif keluarganya. Jadi kita kita punya gaji atau penghasilan tiga juta, lalu kebutuhan konsumtif keluarga kita satu juta, kita baru bisa menandingi Salman Al Farisi jika bersedekah satu juta pula. Namun karena ada hadits Rasulullah yang menyebutkan bahwa sedekah satu bukit tidak dapat menyamai sedekah satu mud para sahabat, kita tak pernah mampu menandingi sedekah Salman Al Farisi.
Harta sejati kita yang bermanfaat di akhirat nanti adalah apa yang kita sedekahkan. Lalu mengapa kita membagi penghasilan kita menjadi tiga bagian; konsumsi, modal dan sedekah? Mengapa tidak semuanya disedekahkan? Sebab konsumsi dan modal sesungguhnya juga pendukung sedekah kita. Jika keperluan konsumsi kita terpenuhi, maka fisik kita relatif lebih sehat. Dengan fisik yang sehat, kita bisa beribadah dan bekerja yang sebagian hasilnya untuk sedekah. Mengapa perlu mengalokasikan untuk modal/aset? Karena ia akan semakin memperbesar pemasukan kita dan dengannya kita menjadi lebih mudah untuk bersedekah dalam jumlah lebih besar dan juga lebih banyak beramal.
Oleh : Muchlisin BK
Dikutip dari : http://keluargacinta.com/rahasia-dasar-mengelola-keuangan-dari-rasulullah/