Monday, 13 June 2016
Duri Sekuntum Mawar
Waktu menunjukkan pukul 04.30 pagi ketika paman membangunkanku hari itu.
"Raka, bangun nak. Lekaslah ambil air wudhu, kita shalat berjamaah d mesjid."
"Ia paman", sahutku dengan mata setengah terkantuk.
Aku dan paman berjalan menuju sebuah mesjid yang ada di desa ini, aku terkejut ternyata banyak perubahan yang terjadi disini selama kutinggal kuliah empat tahun lebih. Sawah yang dulu terbentang luas, sedikit demi sedikit berubah menjadi dinding-dinding bata yang megah. Hanya beberapa petak tanah saja yang masih berupa sawah dan kebun, ya kebun.
"Paman, dimanakah sawah-sawah tempatku bermain dulu?" tanyaku iseng.
"Seperti yang kamu lihat, semua sudah berubah." jawab paman singkat.
"Lalu dimana anak-anak bermain sekarang? Di balik dinding-dinding bata itukah? Apa serunya main disana?"
"Jangan salah, desa ini masih memiliki sehamparan tanah yang masih berupa kebun, kebun yang indah. Kau pun pasti akan takjub melihatnya, ia berada di ujung desa, disana. Sepasang kakek-nenek pemilik tanah itu masih mempertahankan tanahnya sebagai kebun."
Pembicaraan kami pun terhenti ketika kami sampai di teras mesjid, aku dan paman menunaikan shalat subuh disana.
"Raka, bangun nak. Lekaslah ambil air wudhu, kita shalat berjamaah d mesjid."
"Ia paman", sahutku dengan mata setengah terkantuk.
Aku dan paman berjalan menuju sebuah mesjid yang ada di desa ini, aku terkejut ternyata banyak perubahan yang terjadi disini selama kutinggal kuliah empat tahun lebih. Sawah yang dulu terbentang luas, sedikit demi sedikit berubah menjadi dinding-dinding bata yang megah. Hanya beberapa petak tanah saja yang masih berupa sawah dan kebun, ya kebun.
"Paman, dimanakah sawah-sawah tempatku bermain dulu?" tanyaku iseng.
"Seperti yang kamu lihat, semua sudah berubah." jawab paman singkat.
"Lalu dimana anak-anak bermain sekarang? Di balik dinding-dinding bata itukah? Apa serunya main disana?"
"Jangan salah, desa ini masih memiliki sehamparan tanah yang masih berupa kebun, kebun yang indah. Kau pun pasti akan takjub melihatnya, ia berada di ujung desa, disana. Sepasang kakek-nenek pemilik tanah itu masih mempertahankan tanahnya sebagai kebun."
Pembicaraan kami pun terhenti ketika kami sampai di teras mesjid, aku dan paman menunaikan shalat subuh disana.
***
"Paman, aku penasaran dengan kebun yang tadi paman ceritakan, bolehkah aku pergi ke sana?"
"Pergilah, tapi paman tak bisa menemanimu karena harus mengantar bibimu ke pasar."
"Tak masalah paman, kurasa aku masih ingat jalan-jalan di desa ini."
Kulangkahkan kaki ke tempat yang paman ceritakan tadi, ternyata cukup jauh juga jaraknya. Mentari mulai mengintip dari balik awan ketika aku sampai. Subhanallah.. Sungguh elok yang kulihat, sepanjang mata memandang tampak kebun mawar yang begitu indah, berwarna warni. Mataku terpaku pada setangkai mawar merah yang begitu semerbak, hingga kutergoda untuk memetik dan membawanya pulang, namun tiba-tiba seseorang muncul dari belakang...
"Hati-hati mawar itu......"
Belum selesai suara itu, tanganku merasakan perih seperti tertusuk duri, dan suara itu menampakkan wujudnya.
"Kubilang hati-hati, mawar ini durinya sangat tajam. Kemarikan tanganmu biar ku obati."
Gadis itu mengeluarkan sapu tangan dari sakunya, dia membersihkan darah ditanganku dan menutupnya dengan plester.
"Terima kasih.. Maaf, kalau boleh tahu kamu siapa?" tanyaku.
"Namaku Mawar, kebun ini milik kakek dan nenekku. Aku disini membantu mereka mengurus kebun ini. Mawar yang tadi kamu petik itu memang yang paling indah disini, tapi kamu harus berhati-hati terhadapnya, durinya sanghat tajam."
"Aku Raka. Disini aku tinggal bersama pamanku, diujung sana."
"Ada perlu apa kamu kesini Mau beli mawar? Kami tidak menjualnya, siapapun boleh memetik mawar disini, tapi dengan seijin kami."
"Tidak, aku hanya main-main saja. Kebetulan aku sedang berlibur, ingin jalan-jalan mencari pemandangan yang segar. Pamanku menunjukkanku tempat ini, dan memang indah."
Gadis itu mengeluarkan gunting, dan memotong ranting-ranting mawar yang kering. Dalam kesibukannya aku bertanya,
"Kakek dan nenekmu suka sekali bunga mawar ya? Kebun seluas ini, isinya bunga mawar semua."
"Begitulah, mereka sangat sekali mawar, bahkan hingga mereka memberi namaku Mawar."
"Nama itu memang pantas untukmu, cantik. Tapi kenapa kalian sangat suka dengan bunga mawar?"
"Mawar itu bunga yang unik, dibalik keharuman dan kecantikannya menyimpan kepedihan. Pernahkah kamu berikir jika tangkai-tangkai mawar itu tak berduri? Keindahannya menjadi tidak berharga lagi, karena semua orang akan dengan seenaknya memetik bunga mawar itu, tanpa perlu khawatir tertusuk duri."
"Ya... seperti yang kualami tadi, perkenalan yang menyakitkan dengan setangkai mawar."
"Ini, bawalah pulang. Simpanlah dirumahmu, simpan didalam vas bunga yang berisi air agar bunganya tak cepat layu. Jika bunga ini telah layu, kau boleh kembali kesini, biar nanti kupetikan lagi." ucapnya seraya memberiku sekuntum mawar putih yang indah.
***
Aku kembali kerumah ketika mentari mulai menghangat. Sebuah pertemuan yang tak diduga, gadis itu punya paras yang cantik secantik kelopak mawar yang ia beri, dan dia punya sorot mata yang tajam setajam duri mawar. Tak tahu kenapa setelah pertemuan itu aku ingat tatapan matanya.
Keesokan hari, selepas shalat subuh di mesjid yang sama aku kembali ke kebun itu. Seperti kemasin, kedatanganku disapa sang mentari yang mengintip dari ufuk timur. Kuberdiri di tengh kebun, meluaskan pandanganku mencari sesosok gadis dengan matanya yang indah.
"Kamu nyari apa?" tiba-tiba suara itu kembali mengejutkanku.
"Aku tak mencari apa-apa, aku hanya sedang mencari seorang gadis cantik secantik mawar yang merawat kebun ini. Kamu." bibirnya tersenyum ketika aku menoleh kearahnya, pipinya merah merona tersamar bias oleh cahaya sang mentari.
"Kamu ini, baru kemarin kenal udah berani gombalin aku." ujarnya sambil tertawa kecil.
Kami berjalan berkeliling kebun sambil berbincang-bincang. Dari pembicaraan kami, aku menjadi tahu kalau orang tua Mawar tidak tinggal di desa ini, mereka merantau ke kota dan Mawar tinggal bersama dengan kakek dan neneknya semenjak kecil. Dan yang kutahu juga, kecintaannya terhadap bunga mawar sangatlah besar, ia sangat telaten dalam mengurus kebun ini.
"Kamu tahu Raka, setiap warna kelopak bunga mawar mempunyai arti tersendiri. Mawar putih misalnya, melambangkan cinta sejati, kemurnian, kesungguhan, kesucian, kelembutan serta kerendahan hati."
"Kalau mawar merah? Kulihat disini didominasi oleh bunga mawar merah."
"Mawar merah adalah favoritku, ia melambangkan cinta, kecantikan, keberanian, penghormatan, keromantisan. Biasanya mawar merah digunakan untuk mengungkapkan cinta."
Ia begitu hafal seluk beluk bunga mawar, sepanjang hari ia terus bercerita tentang mawar. Saking banyaknya ia bercerita, nyaris tak ada yang kuingat satupun apa yang diceritakannya.
***
Hari berganti hari, aku dan Mawar semakin dekat. Entah kenapa aku merasa nyaman didekatnya, senyumnya yang manis dan sorot matanya yang tajam membuatku terpesona.
Tak terasa dua bulan sudah aku disini, esok aku harus kembali ke kota untuk melangsungkan wisuda sarjanaku. Seperti hari-hari sebelumya, selepas shalat subuh aku pergi ke kebun menemui Mawar. Sebelum aku menemuinya, kusempatkan untuk memetik beberapa tangkai bunga mawar merah. Ya, hari ini aku akan menyatakan perasaanku kepadanya.
Kulihat Mawar duduk d teras rumahnya, sembari memotong daun-daun mawar yang kering. Ia melambaikan tangan kearahku seolah memanggilku kesana. Sekuntum mawar merah yang tadi kupetik, kusembunyikan di balik punggungku. Sambil berlutut didepannya, kuberikan mawar itu seraya berkata,
"Mawar, kuberikan sekuntum mawar merah ini untukmu. Aku mencintaimu." Pipinya merah merona, matanya berkaca-kaca, bibirnya menyimpan senyum yang tertahan.
"Mawar, esok aku harus pergi ke kota, mungkin sekitar seminggu. Setelah itu aku akan kembali lagi kesini, untuk melamarmu." ia memeluk erat mawar yang kuberi, ia tersenyum.
Dari dalam rumah terdengar suara kakenya memanggil, "Mawar, ada telepon untukmu. Dari ibumu.".
"Ia kek, tunggu sebentar." jawab Mawar kepada kakeknya.
"Raka, aku masuk dulu. Sebaiknya kamu pulang, berkemas untuk keberangkatanmu besok. Jaga dirimu baik-baik." Mawar pun pergi dengan melempar senyumnya yang manis.
***
Seminggu telah berlalu, aku kembali ke desa untuk memenuhi janjiku. Setelah menyimpan tas, aku pamit kepada paman untuk menemui Mawar. Sungguh perasaanku sangat bahagia, hari ini aku akan melamar Mawar. Kupercepat langkahku.
Langkahku tiba-tiba terhenti, mataku terperanga seolah tak percaya dengan apa yang kulihat. Kebun mawar yang sepekan kemarin begitu indah dengan bunga-bunganya yang bersemi, kini berubah tandus. Ada apa ini? Apa yang terjadi dengan kebun ini?
"Kebun ini diserang hama, dan sudah seminggu tak ada yang mengurusnya. Keluarga pemilik kebun ini pergi sejak seminggu yang lalu. Dan gadis itu meninggalkan ini untukmu." ucap seorang lelaki setengah baya yang aku sendiri tak tahu itu siapa. Ia memberiku sepucuk surat dan sekantung plastik yang entah apa isinya.
"Terima kasih." kuambil surat dan kantung itu, lelaki itu pun pergi.
Kududuk di pematang kebun yang kini sudah tandus, kubuka surat yang tadi lelaki itu berikan kepadaku...
---
Dear Raka,
Pertemuan ini begitu indah, seindah bunga mawar yang mekar di pagi hari. Namun sayang, sekalipun kita sadari kita tak akan pernah tahu kapan duri itu akan membuat kita terluka. Kau tahu Raka, aku begitu senang ketika mawar-mawar itu bersemi. Aku tak pernah melihat kebunku seindah itu sebelum kau datang. Dan sesungguhnya aku sangat senang berada dsana bersamamu. Sayangnya aku tak bisa, aku harus meninggalkan mawar-mawar yang sedang bersemi itu, dan membiarkannya mengering seiring berjalannya waktu.
Raka, maafkan aku. Aku tak bisa membalas mawar merah yang kau beri, kau masih ingat saat ibuku meneleponku sebelum kau pergi ke kota? Saat itu tanganku berdarah tertusuk duri saat menggenggam erat mawar merah yang kau beri, perih. Tapi aku tak bisa melepaskan genggamanku darinya, meskipun itu semakin membuatkku terluka. Raka, maafkan aku. Aku harus menikah dengan lelaki yang ibu pilihkan untukku.
Aku tak bisa memberimu sekuntum mawar merah, karena aku tak mau kau merasakan perih seperti yang kurasakan. Tapi aku titipkan bibit mawar ini untukmu, rawatlah, peliharalah dengan baik. Kelak ketika mawar itu berbunga, kau bisa memberikannya kepada wanita yang lebih baik dariku. Selama kau merawatnya, menjaganya, selama itu pula aku ada untukmu. Kita rawat mawar kita di kebun masing-masing, dari bibit yang sama. Cinta.
Raka, aku mencintaimu.
Salam rindu, Mawar.
---
Monday, 25 April 2016
Kata-kata Bijak BJ Habibie
![]() |
| BJ Habibie |
Siapa tak kenal beliau, seorang jenius asli Indonesia yang pernah menjadi Presiden Republik Indonesia.
Kisah cintanya bersama Ibu Ainun menjadi begitu terkenal setelah beliau tulis dalam sebuah buku yang kemudian di-film kan dalam "Habibie dan Ainun". Kesetiaannya terhadap Ibu Ainun sungguh sangat menyentuh, mereka berjuang bersama meraih kesuksesan hingga Habibie bisa sampai sekarang.
Beliau merupakan salah satu idola saya, selain karena kesetiaan cinta dan juga kejeniusannya, beberapa quotesnya juga sangat menyentuh. Berikut adalah beberapa quotes dari BJ Habibie.
Tidak perlu seseorang yang sempurna, cukup temukan seseorang yang membuatmu bahagia dan membuatmu berarti lebih di bandingkan siapapun.
Salah satu kunci kebahagiaan adalah gunakan uangmu untuk pengalaman bukan gunakan uangmu untuk keinginan.
Kegagalan hanya akan ada bila kita menyerah untuk mencoba.
Jika ada yang menghina anda anggap saja sebagai pujian bahwa sebenarnya dia berjam jam telah memikirkan anda sedang anda tidak sedetipun memikirkan dia.
Belajarlah mengucap sukur dari hal hal baik di hidupmu, dan belajarlah menjadi pribadi yang kuat dengan hal hal buruk di hidupmu.
Cinta bukan sekedar tatapan satu sama lain melainkan menatap keluar bersama dengan arah yang seirama
Masa lalu saya adalah milik saya, masa lalu anda adalah milik anda namun masa depan adalah milik kita berdua.
Nah itulah beberapa quotes dari BJ Habibie, yang kedua terakhir itu yang jleb.. Menurut kalian, mana yang paling jleb??? ^_^
Wednesday, 9 March 2016
Gerhana Matahari - Sebuah Renungan
9 Maret 2016.
Pemberitaan hari ini heboh, karena hari ini diprediksi akan terjadi gerhana matahari di wilayah Indonesia. Di wilayah yang terlintasi garis khatulistiwa terjadi gerhana total, sedangkan di beberapa daerah lainnya gerhana sebagian.
Subhanallah walhamdulillah, gue juga dapat mengalami kejadian langka ini, sebuah tanda-tanda keagungan Allah dan juga sebagai peringatan bagi kita semua. Memang di tempat gue ga terjadi gerhana total, hanya melalui sebuah jendela kamar gue liat sang surya tertutup rembulan dan membetuk sabit. Secara teoritis fenomena ini terjadi karena bulan, bumi dan matahari terletak pada garis sejajar dan posisi bulan berada di tengah menutupi matahari. Hal ini menyebabkan cahaya matahari tertutup oleh bulan dan bumi menjadi redup.
Subhanallah, maha suci Allah. Coba kita renungkan sejenak, hari ini matahari "hanya" tertutup bulan, dan "hanya" sebentar. Lalu bagaimana nanti pada hari kiamat? Bagaimana ketika kita bangun di pagi hari sang mentari tak menampakkan diri? Dunia menjadi gelap gulita, dan pada saat itu amalan kita sudah tidak berarti lagi.
Kawan, bersyukurlah kita dapat menyaksikan fenomena ini, dan bertasbihlah memuji Allah, serta beristighfarlah meminta ampunan Allah. Mari kita isi sisa hidup kita dengan amal ibadah, mari kita niatkan hidup kita hanya untuk Allah. Wallahuwalam bishowaf.
Thursday, 13 August 2015
Refleksi Diri
Sabtu, 8 Agustus.
Sabtu malam itu terasa sangat membosankan, kenyataan bahwa esok adalah hari Minggu pun tak mampu membuat gue tersenyum. Ditengah heningnya malam yang terganggu suara nyamuk berseliweran, gadget gue berbunyi.
"PING!!!"
"Kenapa?"
"Lu diundang ga sama si anu?"
"Kaga, napa emang?"
"Dia mau merit minggu depan. Lu dateng ga?"
"Kaga! Makasih!"
Percakapan itupun gue cukupkan sampai sekian. Dan Sabtu malam pun terasa semakin dingin. Si "anu" yang dia maksud adalah seseorang yang pernah ada dalam hidup gue. Ga lama memang, tapi berita tentang pernikahnnya membuat gue jadi galau. Bukan karena kenyataan bahwa dia sekarang menjadi milik orang lain yang sah, atau karena lakinya lebih ganteng dari gue. Haha!
Kenyataan bahwa dia menyebar undangan lebih dulu adalah sebuah cambuk panas buat gue. Cemburu? Entahlah! Yang jelas gue tersadar akan suramnya hidup gue. Gue harus menerima kenyataan bahwa gue selama ini jalan ditempat. Sementara orang lain sudah menemukan arti hidupnya, gue masih sibuk mencari jati diri gue.
Tuhan sudah sangat adil untuk hal ini. Atas karunia-Nya kini dia bahagia dengan orang yang seharusnya. Yang mungkin itu ga akan terjadi kalau dia masih sama gue. Udah ah stop bahas dianya!
Sekarang balik lagi bahas soal gue.
Dari hasil sharing sama orang-orang yang berpengalaman di bidangnya, akhirnya gue dapet beberapa kesimpulan tentang apa sebenarnya yang jadi masalah gue.
Pertama.
Menurut beberapa pakar, galau yang gue rasain ada bukan galau biasa. Melainkan galau yang biasa aja. Mungkin karena hati gue yang terlalu sensitif jadi terlalu lebay buat menanggapinya.
Kedua.
Gue perlu waktu yang cukup banyak buat refreshing, menghilangkan segala penat yang timbul dari rutitinas yang mulai buat gue pengen muntah duit seratus ribuan terus gue masukin dompet buat biaya liburan. Buat merefresh kembali pikiran yang runyam.
Ketiga.
Gue harus bisa belajar ikhlas, ikhlas menerima kenyataan bahwa gue terlahir dalam keadaan yang sudah seharusnya. Bahwa gue ditakdirkan untuk berusaha lebih keras dari orang kebanyakan untuk bisa mempertahankan hidup dan harga diri gue. Dengan ikhlas, perlahan gue bisa mensyukuri semua keadaan. Mengambil hikmah dari semua kejadian yang gue alami.
Keempat.
Realistis! Ya realistis aja. Ga usah pengen segalanya bisa terjadi dengan cepat. Jalan hidup manusia sudah ditetapkan bahkan sejak masih dalam kandungan, hanya saja sejauh mana kita bisa melihat jalan itu?
So, jauhkan pikiran dari hal-hal negatif yang hanya membuat kita mengeluh dan lupa akan rasa syukur atas apa yang telah Tuhan berikan untuk kita. Tatap jalan didepanmu, dan mari tancap gas!!!
Terima kasih kawan.
Sabtu malam itu terasa sangat membosankan, kenyataan bahwa esok adalah hari Minggu pun tak mampu membuat gue tersenyum. Ditengah heningnya malam yang terganggu suara nyamuk berseliweran, gadget gue berbunyi.
"PING!!!"
"Kenapa?"
"Lu diundang ga sama si anu?"
"Kaga, napa emang?"
"Dia mau merit minggu depan. Lu dateng ga?"
"Kaga! Makasih!"
Percakapan itupun gue cukupkan sampai sekian. Dan Sabtu malam pun terasa semakin dingin. Si "anu" yang dia maksud adalah seseorang yang pernah ada dalam hidup gue. Ga lama memang, tapi berita tentang pernikahnnya membuat gue jadi galau. Bukan karena kenyataan bahwa dia sekarang menjadi milik orang lain yang sah, atau karena lakinya lebih ganteng dari gue. Haha!
Kenyataan bahwa dia menyebar undangan lebih dulu adalah sebuah cambuk panas buat gue. Cemburu? Entahlah! Yang jelas gue tersadar akan suramnya hidup gue. Gue harus menerima kenyataan bahwa gue selama ini jalan ditempat. Sementara orang lain sudah menemukan arti hidupnya, gue masih sibuk mencari jati diri gue.
Tuhan sudah sangat adil untuk hal ini. Atas karunia-Nya kini dia bahagia dengan orang yang seharusnya. Yang mungkin itu ga akan terjadi kalau dia masih sama gue. Udah ah stop bahas dianya!
Sekarang balik lagi bahas soal gue.
Dari hasil sharing sama orang-orang yang berpengalaman di bidangnya, akhirnya gue dapet beberapa kesimpulan tentang apa sebenarnya yang jadi masalah gue.
Pertama.
Menurut beberapa pakar, galau yang gue rasain ada bukan galau biasa. Melainkan galau yang biasa aja. Mungkin karena hati gue yang terlalu sensitif jadi terlalu lebay buat menanggapinya.
Kedua.
Gue perlu waktu yang cukup banyak buat refreshing, menghilangkan segala penat yang timbul dari rutitinas yang mulai buat gue pengen muntah duit seratus ribuan terus gue masukin dompet buat biaya liburan. Buat merefresh kembali pikiran yang runyam.
Ketiga.
Gue harus bisa belajar ikhlas, ikhlas menerima kenyataan bahwa gue terlahir dalam keadaan yang sudah seharusnya. Bahwa gue ditakdirkan untuk berusaha lebih keras dari orang kebanyakan untuk bisa mempertahankan hidup dan harga diri gue. Dengan ikhlas, perlahan gue bisa mensyukuri semua keadaan. Mengambil hikmah dari semua kejadian yang gue alami.
Keempat.
Realistis! Ya realistis aja. Ga usah pengen segalanya bisa terjadi dengan cepat. Jalan hidup manusia sudah ditetapkan bahkan sejak masih dalam kandungan, hanya saja sejauh mana kita bisa melihat jalan itu?
So, jauhkan pikiran dari hal-hal negatif yang hanya membuat kita mengeluh dan lupa akan rasa syukur atas apa yang telah Tuhan berikan untuk kita. Tatap jalan didepanmu, dan mari tancap gas!!!
Terima kasih kawan.
Tuesday, 9 December 2014
Sendal Jepit
| Sendal |
Sendal. Tentu setiap orang akan memakainya manakala ia akan bepergian ke suatu tempat, bahkan mungkin juga di dalam rumah.
Sendal banyak sekali ragamnya, mulai dari harga yang mahal sampai dengan yang paling murah dan identik dengan sendal jepit. Spesies sendal yang satu ini mungkin dianggap kasta paling rendah diantara para sendal, padahal disadari atau tidak (mungkin) dia lah yang paling banyak manfaatnya diantara sendal-sendal yang lain.
Pertama. Jika kalian akan pergi ke mesjid (tempat ibadah) saya yakin kalian akan memilih memakai sendal jepit dibandingkan sendal mahal atau sepatu kerja. Alasannya sederhana, kalau hilang tentu tak akan terlalu rugi karena harganya yang murah. Coba hitung berapa nilai asset kalian yang telah diselamatkan oleh sendal jepit ini? Disamping itu, si sendal jepit ini pula lah yang mengantar kalian pulang pergi menjemput pahala (shalat berjamaah di mesjid). Dan mungkin dia akan bersaksi di akhirat nanti atas amal perbuatan kalian.
Kedua. Ketika kalian sedang mengendarai sepeda motor kemudian turun hujan, kalian akan lebih memilih untuk membeli atau menggunakan (jika sudah ada) si sendal jepit ini dibandingkan sepatu kalian. Jika tak memungkinkan untuk beli sendal jepit, ya mungkin kalian akan memilih berteduh sampai hujan reda. Apa jadinya jika saat itu kalian ada pertemuan penting? Janji sama orang lain? Waktu kalian akan terbuang hanya karena tidak ada sendal jepit (kalau ga mau nyeker loh ya...).
Ketiga. Sendal jepit adalah spesies sendal yang paling mudah untuk dipinjamkan ketika teman kita memang memerlukannya. Karena terkadang kita agak sungkan untuk meminjamkan sendal yang bagus atau mahal. Ya lumayan lah itung-itung amal.
Keempat. Kalau kita beli sendal mahal, mungkin akan cepat ganti karena merasa bosan atau gengsi kalau keluar pake sendal yang itu-itu aja. Tapi kalau kita pake sendal jepit, sampe bulukan, sampe putus itu sendal pasti kita pake terus. Padahal beli sendal jepit kan ga seberapa, tapi ini bukan perkara sayang uang atau pelit. Tapi secara tidak sadar kita telah menyayangi sendal jepit itu sampai titik darah penghabisan.
Kelima.
Keenam.
Ketujuh.
Udah keabisan ide ngebahas urusan sendal jepit ini, yang jelas kita tak boleh meremehkan si sendal jepit ini. Karena secara tidak sadar dia mendatangkan banyak manfaat untuk kita. Toh mau sendal mahal atau sendal jepit nantinya diinjek juga, dipakenya di bawah juga.
Dia yang kita injak-injak
Dia yang bermanfaat
Dia tak tahu sejuknya AC Kantor
Tapi dia tahu panasnya aspal jalanan
Dia setia menemani saat hujan
Dia ada dimana-mana
Dia tak perlu terima kasih
Dia tak perlu diabadikan di museum
Dia ada agar kita mau berfikir
Kesederhanaanlah yang akan membawa kita
Menjelajahi kebahagiaan dunia dan akhirat
Tuesday, 2 December 2014
Monday, 1 December 2014
Gadget : Membuat yang Jauh Terasa Dekat, Membuat yang Dekat Terabaikan
| Gadget |
Selamat malam... Gue harap posting ini ga mengganggu pikiran kalian, ga mengganggu waktu kalian. Kalian bisa baca posting ini disaat kalian santai, mungkin juga bisa dijadikan sebuah renungan.
Gadget. piranti canggih yang relatif berteknologi tinggi sekarang ini bertebaran di mana-mana, dari kualitas nomor satu sampai yang ecek-ecek. Dari kalangan bawah, menengah hingga kalangan atas tak luput dari benda yang disebut gadget.
Di satu sisi gadget memberikan banyak manfaat, salah satunya yang akan gue bahas adalah "membuat yang jauh terasa dekat".
Belakangan ini muncul iklan dari sebuah vendor jejaring sosial yang dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo (Cinta) dan Nicolas Saputra (Rangga), dimana kita tahu mereka berdua terlibat dalam film fenomenal AADC (Ada Apa Dengan Cinta). Dalam iklan itu diperkenalkan fitur baru dalam jejaring sosial tersebut, dalam fitur tersebut memungkinkan penggunanya dapat menemukan teman lama mereka dengan fasilitas pencarian berdasarkan sekolah tempat mereka belajar dulu. Dengan adanya fasilitas tersebut kita bisa mencari teman-teman lama, berteman (di sosmed) kemudian bernostalgia sampai dengan mengadakan reuni. Dengan komunikasi lewat sosmed, teman yang berada jauh disana pun menjadi terasa sangat dekat.
Di sisi lain, gadget juga memberikan banyak kerugian atau efek negatif, salah satu yang akan gue bahas adalah "membuat yang dekat terabaikan".
Ini pengalaman gue sendiri, sewaktu gue masih kos. Malam hari gue sama anak-anak kos lainnya biasanya ngumpul di salah satu kamar. Awalnya, HP gue masih HP jadul yang cuma bisa dipake telfon & sms, begitupun dengan 2 temen gue yang lainnya. Perkumpulan menjadi terasa hangat sehangat kopi yang yang kami seduh malam itu. Kami saling bercengkerama, bercerita tentang kehidupan kami masing-masing, tawa dan canda kami menambah hangat suasana.
Namun keadaan berubah ketika satu persatu dari kami membeli gadget berflatform android dengan fasilitas sosial media lengkap. "Ritual" kami berkumpul malam masih dijalani, tetapi ada yang beda saat itu. Kami sibuk dengan gadget masing-masing, sehingga kami menyebut diri kami (ketika sibuk sendiri dengan gadget) dengan sebutan "autis". Kesal memang ketika gue nanya temen gue, eh ga dijawab dan malah senyum-senyum sendiri. Semenjak gue hijrah dari kosan, gue ga tau temen-temen gue disana masih pada autis atau ngga.
Di lain tempat, gue sama temen-temen se-geng di kampus punya aturan main. Kalau kami sedang kumpul, semua gadget dikumpulkan di meja, ditumpuk dann ga boleh diambil sampe pada bubar. Bukan apa-apa, kadang-kadang salah satu temen gue Kanjeng Roro suka emosi sendiri saat dia dicuekin pas ngomong, alesannya satu : main gadget.
Mungkin kalian juga pernah mengalami hal yang sama, lagi ngedate sama pacar malah dicuekin gara-gara si doi asyik sama gadgetnya. Tak jarang hal-hal seperti itu memicu terjadinya pertengkaran yang berbuntut panjang. Maka dari itu, pesan dari posting ini adalah pergunakan gadget secara tepat, tepat waktu, tepat situasi, tepat kondisi. Jangan sampai kemajuan tekknologi justru menjadi bumerang untuk generasi muda bangsa ini. Buatlah kesepakatan dengan komunitas/pasangan kalian masalah penggunaan gadget, ada waktu dimana kalian dapat berkumpul tanpa adanya gangguan dari orang lain. MU






