Showing posts with label renungan. Show all posts
Showing posts with label renungan. Show all posts

Sunday, 19 June 2016

Prosa untuk Mawar

Mawar...
Dalam dingin malam angin berhembus
Mengalir lembut diantara celah-celah rindu
Berbisik syahdu menentang pilu

Mawar...
Bersualah dengan rembulan
Bercengkerama bersama bintang
Karena padanya kutitipkan rasa

Mawar...
Jika nanti malam tak lagi sunyi
Biarkanlah jangkrik-jangkrik bernyanyi
Sebagai pengantar menuju mimpi

Saturday, 18 June 2016

Mozaik

Pagi ini inspirasi abu-abu, tak jelas. Maksud hati ingin posting tulisan sendiri, apa daya otak tak sampai. Akhirnya daripada ga posting sama sekali, browsinglah. Dan aku menemukan sebuah karya dari kawan lama. Karyanya juga sudah lama, karena sepertinya akhir-akhir ini dia sudah tidak posting lagi, atau dia lupa password akunnya sendiri. :D

Mozaik, begitu ia memberikan judul terhadap tulisannya. Sebuah prosa singkat yang bercerita tentang rahasia Tuhan. Cekidot...

Kamu tahu, mungkin Tuhan adalah sebuah rahasia besar. Ia terkadang memberikan petunjuk demi petunjuk melalui firasat dan ketidakbiasaan. Kita mengumpulkan mozaik demi mozaik dan mengambil kesimpulan. Terkadang berbeda, terkadang sepakat. Tapi Tuhan tetaplah menjadi rahasia. Kamu tahu, Ia sedang mengajak kita bermain tebak-tebakan.

Mozaik Tuhan itu, kadang hadir dalam wujud seseorang. Dan mozaik yang tak terbantahkan dan tak terhindarkan adalah kamu. Semua tentang kamu adalah rahasia besar yang menggantung di ubun-ubun. Ah, tidak. Bahkan mungkin setiap pertemuan adalah (memang) rahasia yang paling mendasar. Setiap pertemuan mengajak kita bermain tebak-tebakan.

Aku dulu pernah bilang, setiap perpisahan akan selalu memikul satu pertemuan lain. Dan kenapa yang kutemukan adalah kamu, itu juga rahasia Tuhan. Dan Tuhan sendiri adalah rahasia. Jadi rahasia memberi kita rahasia supaya tetap menjadi rahasia. Ini membingungkan. Maksudku, benarkah Tuhan mempertemukan kita untuk sekedar menjadi rahasia saja?


Benarkah Tuhan mempertemukan kita untuk sekedar menjadi rahasia saja? :)

Diujung Pelangi

Gemerisik angin bernyanyi diantara dedauan dan menghempas embun pagi. Dingin. Dari teras rumah kutatap mentari yang mengintip di balik mega. Jingga yang indah. Dari dapur terdengar suara sendok yg memukul dinding-dinding cangkir, melarutkan pahitnya serbuk kopi dan manisnya gula.

"Di pagi sedingin ini enaknya minum secangkir kopi yang hangat." ujar paman sembari membawa dua cangkir kopi.

"Terima kasih paman."

"Apa yang sedang kau pikirkan nak?"

"Pelangi. Aku sudah lama tak melihat pelangi paman."

"Paman heran. Kenapa kau harus menanti pelangi yang datang begitu singkat?" tanya paman dengan seruput kopi pertamanya.

"Karena dia indah. Walau aku tak pernah tau kapan dia akan datang, dan berapa lama aku bisa menatapnya."

"Hidupmu terlalu singkat jika kau hanya duduk menanti pelangi yang bahkan ia tak pernah tahu bahwa kau menantikannya."

"Aku tahu paman. Aku tak menantikannya, aku hanya merindukannya."

Embun pagi mulai menguap terhempas riuh angin dan hangatnya mentari. Kopiku dingin tak tersentuh. Sejenak aku teringat sekantung bibit mawar yang diberikan oleh lelaki paruh baya yang kutemui di kebun mawar.

"Paman, sulitkah menanam biji mawar ini?"

"Tentu tidak. Kau hanya perlu menanamnya di tanah, disiram setiap hari, dan diberi pupuk."

"Lalu berapa lama mereka tumbuh?"

"Jangan bertanya berapa lama akan tumbuh, tapi pikirkanlah bagaimana mawar itu akan tumbuh nanti. Apa kau sanggup menyiraminya setiap hari? Apa kau sanggup menyiangi rumput-rumput liar disekitarnya? Dan apa kau siap tergores duri saat kau membersihkan daun dan ranting-ranting yang kering?"

Kusimpan kembali bibit mawar itu, lalu kuteguk kopiku yang sudah dingin. Pelangi memang tak datang pagi ini, tapi aku percaya ia akan datang suatu saat nanti. Dan untukmu pelangi, aku masih disini. Menunggumu datang untuk bercengkerama, berbicara tentang waktu yang terlewatkan. Aku menunggumu, diujung pelangi.



Jika kau tak dapat melihat pelangi, setidaknya kau bisa melihat awan yang akan selalu ada meski kau tak pernah merindukannya.

Wednesday, 15 June 2016

Studi Kasus : Siapa yang Anda Pilih?

Mungkin bagi Anda studi kasus di bawah ini tidaklah penting, begitupun menurut saya pada awalnya. Tapi ketika saya membaca postingan ini di sumber aslinya, saya menjadi sadar betapa egoisnya saya. Silahkan bagi Anda yang mempunyai waktu luang, baca studi kasus di bawah, lalu tulis jawaban Anda di kolom komentar.

Anda sedang mengendarai motor ditengah malam gelap gulita dan hujan lebat di sebuah daerah yang penduduknya sedang diungsikan semuanya karena bencana banjir. Pemerintah setempat hanya bisa memberikan bantuan 1 buah bis yang saat ini juga sedang mengangkut orang-orang ke kota terdekat. Saat itu juga anda melewati sebuah perhentian Bis satu-satunya didaerah itu. Di perhentian Bis itu Anda melihat 3 orang yang merupakan orang terakhir di daerah itu yang sedang menunggu kedatangan Bis :
- Seorang nenek tua yang sekarat,
- Seorang dokter yang pernah menyelamatkan hidup Anda sebelumnya,
- Seseorang yang selama ini menjadi idaman hati Anda dan akhirnya Anda temukan.

Anda hanya bisa mengajak satu orang untuk dibonceng Anda, siapakah yang akan Anda ajak ? Dan jelaskan jawaban Anda mengapa Anda melakukan itu. Sebelum Anda menjawab, ada beberapa hal yang perlu Anda pertimbangkan:

* Seharusnya Anda menolong nenek tua itu dulu karena dia sudah sekarat. Jika tidak segera ditolong akan meninggal. Namun, kalo dipikir-pikir, orang yang sudah tua memang sudah mendekati ajalnya. Sedangkan yang lainnya masih sangat muda dan harapan hidup kedepannya masih panjang.

* Dokter itu pernah menyelamatkan hidup Anda. Inilah saat yang tepat untuk membalas budi kepadanya... Tapi kalo dipikir, kalo sekedar membalas budi bisa lain waktu khan.... Namun, kita tidak akan pernah tahu kapan kita mendapatkan kesempatan itu lagi.

* Mendapatkan idaman hati adalah hal yang sangat langka.. Jika kali ini Anda lewatkan, mungkin Anda tidak akan pernah ketemu dia lagi. Dan impian Anda akan kandas selamanya.

Diam Membuat Kita Mati - Filosofi Ikan Hiu dan Salmon

Hiu vs Salmon
Untuk masakan Jepang, kita tahu bahwa ikan salmon akan lebih enak untuk dinikmati jika ikan tersebut masih dalam keadaan hidup saat hendak diolah untuk disajikan. Jauh lebih nikmat dibandingkan dengan ikan salmon yang sudah diawetkan dengan es..

Itu sebabnya para nelayan selalu memasukkan salmon tangkapannya ke suatu kolam buatan agar dalam perjalanan menuju daratan salmon-salmon tersebut tetap hidup.
Meski demikian pada kenyataannya banyak salmon yang mati di kolam buatan tersebut..

Bagaimana cara mereka menyiasatinya..??
Para nelayan itu memasukkan seekor hiu kecil dikolam tersebut.. Ajaib..!!
Hiu kecil tersebut 'memaksa' salmon-salmon itu terus bergerak agar jangan sampai dimangsa..
Akibatnya jumlah salmon yang mati justru menjadi sangat sedikit..!!

Diam membuat kita mati..!

Bergerak membuat kita hidup...!!


Apa yang membuat kita diam??
Saat tidak ada masalah dalam hidup dan saat kita berada dalam zona nyaman..
Situasi seperti ini kerap membuat kita terlena..
Begitu terlenanya sehingga kita tidak sadar bahwa kita telah mati..!!
Ironis, bukan..??

Apa yang membuat kita bergerak..??
Masalah.. Tekanan Hidup.. dan Tekanan Kerja..
Saat masalah datang secara otomatis naluri kita membuat kita bergerak aktif dan berusaha mengatasi semua pergumulan hidup itu..
Tidak hanya itu, kita menjadi kreatif, dan potensi diri kitapun menjadi berkembang luar biasa..
Ingatlah bahwa kita akan bisa belajar banyak dalam hidup ini bukan pada saat keadaan nyaman, tapi justru pada saat kita menghadapi badai hidup..

Itu sebabnya syukurilah 'hiu kecil' yg terus memaksa kita untuk bergerak dan tetap survive..

Masalah hidup adalah baik, karena itulah yang membuat kita terus bergerak. Hiu-hiu kecil itu bisa diumpamakan siapa dan apa saja dalam hidup kita...

Jangan jatuh walaupun kita dijatuhkan oleh orang lain. Justru efeknya bisa membuat kita bangkit menjadi luar biasa...

sumber : http://www.kisahinspiratif.info/ka/02.php


Bergeraklah, karena kita hidup di bumi yang terus berputar - Mangubay

Monday, 13 June 2016

Duri Sekuntum Mawar

Waktu menunjukkan pukul 04.30 pagi ketika paman membangunkanku hari itu.
"Raka, bangun nak. Lekaslah ambil air wudhu, kita shalat berjamaah d mesjid."
"Ia paman", sahutku dengan mata setengah terkantuk.
Aku dan paman berjalan menuju sebuah mesjid yang ada di desa ini, aku terkejut ternyata banyak perubahan yang terjadi disini selama kutinggal kuliah empat tahun lebih. Sawah yang dulu terbentang luas, sedikit demi sedikit berubah menjadi dinding-dinding bata yang megah. Hanya beberapa petak tanah saja yang masih berupa sawah dan kebun, ya kebun.
"Paman, dimanakah sawah-sawah tempatku bermain dulu?" tanyaku iseng.
"Seperti yang kamu lihat, semua sudah berubah." jawab paman singkat.
"Lalu dimana anak-anak bermain sekarang? Di balik dinding-dinding bata itukah? Apa serunya main disana?"
"Jangan salah, desa ini masih memiliki sehamparan tanah yang masih berupa kebun, kebun yang indah. Kau pun pasti akan takjub melihatnya, ia berada di ujung desa, disana. Sepasang kakek-nenek pemilik tanah itu masih mempertahankan tanahnya sebagai kebun."
Pembicaraan kami pun terhenti ketika kami sampai di teras mesjid, aku dan paman menunaikan shalat subuh disana.

***

"Paman, aku penasaran dengan kebun yang tadi paman ceritakan, bolehkah aku pergi ke sana?"
"Pergilah, tapi paman tak bisa menemanimu karena harus mengantar bibimu ke pasar."
"Tak masalah paman, kurasa aku masih ingat jalan-jalan di desa ini."
Kulangkahkan kaki ke tempat yang paman ceritakan tadi, ternyata cukup jauh juga jaraknya. Mentari mulai mengintip dari balik awan ketika aku sampai. Subhanallah.. Sungguh elok yang kulihat, sepanjang mata memandang tampak kebun mawar yang begitu indah, berwarna warni. Mataku terpaku pada setangkai mawar merah yang begitu semerbak, hingga kutergoda untuk memetik dan membawanya pulang, namun tiba-tiba seseorang muncul dari belakang...
"Hati-hati mawar itu......"
Belum selesai suara itu, tanganku merasakan perih seperti tertusuk duri, dan suara itu menampakkan wujudnya.
"Kubilang hati-hati, mawar ini durinya sangat tajam. Kemarikan tanganmu biar ku obati."
Gadis itu mengeluarkan sapu tangan dari sakunya, dia membersihkan darah ditanganku dan menutupnya dengan plester.
"Terima kasih.. Maaf, kalau boleh tahu kamu siapa?" tanyaku.
"Namaku Mawar, kebun ini milik kakek dan nenekku. Aku disini membantu mereka mengurus kebun ini. Mawar yang tadi kamu petik itu memang yang paling indah disini, tapi kamu harus berhati-hati terhadapnya, durinya sanghat tajam."
"Aku Raka. Disini aku tinggal bersama pamanku, diujung sana."
"Ada perlu apa kamu kesini Mau beli mawar? Kami tidak menjualnya, siapapun boleh memetik mawar disini, tapi dengan seijin kami."
"Tidak, aku hanya main-main saja. Kebetulan aku sedang berlibur, ingin jalan-jalan mencari pemandangan yang segar. Pamanku menunjukkanku tempat ini, dan memang indah."
Gadis itu mengeluarkan gunting, dan memotong ranting-ranting mawar yang kering. Dalam kesibukannya aku bertanya,
"Kakek dan nenekmu suka sekali bunga mawar ya? Kebun seluas ini, isinya bunga mawar semua."
"Begitulah, mereka sangat sekali mawar, bahkan hingga mereka memberi namaku Mawar."
"Nama itu memang pantas untukmu, cantik. Tapi kenapa kalian sangat suka dengan bunga mawar?"
"Mawar itu bunga yang unik, dibalik keharuman dan kecantikannya menyimpan kepedihan. Pernahkah kamu berikir jika tangkai-tangkai mawar itu tak berduri? Keindahannya menjadi tidak berharga lagi, karena semua orang akan dengan seenaknya memetik bunga mawar itu, tanpa perlu khawatir tertusuk duri."
"Ya... seperti yang kualami tadi, perkenalan yang menyakitkan dengan setangkai mawar."
"Ini, bawalah pulang. Simpanlah dirumahmu, simpan didalam vas bunga yang berisi air agar bunganya tak cepat layu. Jika bunga ini telah layu, kau boleh kembali kesini, biar nanti kupetikan lagi." ucapnya seraya memberiku sekuntum mawar putih yang indah.

***

Aku kembali kerumah ketika mentari mulai menghangat. Sebuah pertemuan yang tak diduga, gadis itu punya paras yang cantik secantik kelopak mawar yang ia beri, dan dia punya sorot mata yang tajam setajam duri mawar. Tak tahu kenapa setelah pertemuan itu aku ingat tatapan matanya.
Keesokan hari, selepas shalat subuh di mesjid yang sama aku kembali ke kebun itu. Seperti kemasin, kedatanganku disapa sang mentari yang mengintip dari ufuk timur. Kuberdiri di tengh kebun, meluaskan pandanganku mencari sesosok gadis dengan matanya yang indah.
"Kamu nyari apa?" tiba-tiba suara itu kembali mengejutkanku.
"Aku tak mencari apa-apa, aku hanya sedang mencari seorang gadis cantik secantik mawar yang merawat kebun ini. Kamu." bibirnya tersenyum ketika aku menoleh kearahnya, pipinya merah merona tersamar bias oleh cahaya sang mentari.
"Kamu ini, baru kemarin kenal udah berani gombalin aku." ujarnya sambil tertawa kecil.
Kami berjalan berkeliling kebun sambil berbincang-bincang. Dari pembicaraan kami, aku menjadi tahu kalau orang tua Mawar tidak tinggal di desa ini, mereka merantau ke kota dan Mawar tinggal bersama dengan kakek dan neneknya semenjak kecil. Dan yang kutahu juga, kecintaannya terhadap bunga mawar sangatlah besar, ia sangat telaten dalam mengurus kebun ini.
"Kamu tahu Raka, setiap warna kelopak bunga mawar mempunyai arti tersendiri. Mawar putih misalnya, melambangkan cinta sejati, kemurnian, kesungguhan, kesucian, kelembutan serta kerendahan hati."
"Kalau mawar merah? Kulihat disini didominasi oleh bunga mawar merah."
"Mawar merah adalah favoritku, ia melambangkan cinta, kecantikan, keberanian, penghormatan, keromantisan. Biasanya mawar merah digunakan untuk mengungkapkan cinta."
Ia begitu hafal seluk beluk bunga mawar, sepanjang hari ia terus bercerita tentang mawar. Saking banyaknya ia bercerita, nyaris tak ada yang kuingat satupun apa yang diceritakannya.
***

Hari berganti hari, aku dan Mawar semakin dekat. Entah kenapa aku merasa nyaman didekatnya, senyumnya yang manis dan sorot matanya yang tajam membuatku terpesona.
Tak terasa dua bulan sudah aku disini, esok aku harus kembali ke kota untuk melangsungkan wisuda sarjanaku. Seperti hari-hari sebelumya, selepas shalat subuh aku pergi ke kebun menemui Mawar. Sebelum aku menemuinya, kusempatkan untuk memetik beberapa tangkai bunga mawar merah. Ya, hari ini aku akan menyatakan perasaanku kepadanya.
Kulihat Mawar duduk d teras rumahnya, sembari memotong daun-daun mawar yang kering. Ia melambaikan tangan kearahku seolah memanggilku kesana. Sekuntum mawar merah yang tadi kupetik, kusembunyikan di balik punggungku. Sambil berlutut didepannya, kuberikan mawar itu seraya berkata,
"Mawar, kuberikan sekuntum mawar merah ini untukmu. Aku mencintaimu." Pipinya merah merona, matanya berkaca-kaca, bibirnya menyimpan senyum yang tertahan.
"Mawar, esok aku harus pergi ke kota, mungkin sekitar seminggu. Setelah itu aku akan kembali lagi kesini, untuk melamarmu." ia memeluk erat mawar yang kuberi, ia tersenyum.
Dari dalam rumah terdengar suara kakenya memanggil, "Mawar, ada telepon untukmu. Dari ibumu.".
"Ia kek, tunggu sebentar." jawab Mawar kepada kakeknya.
"Raka, aku masuk dulu. Sebaiknya kamu pulang, berkemas untuk keberangkatanmu besok. Jaga dirimu baik-baik." Mawar pun pergi dengan melempar senyumnya  yang manis.
***
Seminggu telah berlalu, aku kembali ke desa untuk memenuhi janjiku. Setelah menyimpan tas, aku pamit kepada paman untuk menemui Mawar. Sungguh perasaanku sangat bahagia, hari ini aku akan melamar Mawar. Kupercepat langkahku.

Langkahku tiba-tiba terhenti, mataku terperanga seolah tak percaya dengan apa yang kulihat. Kebun mawar yang sepekan kemarin begitu indah dengan bunga-bunganya yang bersemi, kini berubah tandus. Ada apa ini? Apa yang terjadi dengan kebun ini?
"Kebun ini diserang hama, dan sudah seminggu tak ada yang mengurusnya. Keluarga pemilik kebun ini pergi sejak seminggu yang lalu. Dan gadis itu meninggalkan ini untukmu." ucap seorang lelaki setengah baya yang aku sendiri tak tahu itu siapa. Ia memberiku sepucuk surat dan sekantung plastik yang entah apa isinya.
"Terima kasih." kuambil surat dan kantung itu, lelaki itu pun pergi.
Kududuk di pematang kebun yang kini sudah tandus, kubuka surat yang tadi lelaki itu berikan kepadaku...

---
Dear Raka,

Pertemuan ini begitu indah, seindah bunga mawar yang mekar di pagi hari. Namun sayang, sekalipun kita sadari kita tak akan pernah tahu kapan duri itu akan membuat kita terluka. Kau tahu Raka, aku begitu senang ketika mawar-mawar itu bersemi. Aku tak pernah melihat kebunku seindah itu sebelum kau datang.  Dan sesungguhnya aku sangat senang berada dsana bersamamu. Sayangnya aku tak bisa, aku harus meninggalkan mawar-mawar yang sedang bersemi itu, dan membiarkannya mengering seiring berjalannya waktu.

Raka, maafkan aku. Aku tak bisa membalas mawar merah yang kau beri, kau masih ingat saat ibuku meneleponku sebelum kau pergi ke kota? Saat itu tanganku berdarah tertusuk duri saat menggenggam erat mawar merah yang kau beri, perih. Tapi aku tak bisa melepaskan genggamanku darinya, meskipun itu semakin membuatkku terluka. Raka, maafkan aku. Aku harus menikah dengan lelaki yang ibu pilihkan untukku.

Aku tak bisa memberimu sekuntum mawar merah, karena aku tak mau kau merasakan perih seperti yang kurasakan. Tapi aku titipkan bibit mawar ini untukmu, rawatlah, peliharalah dengan baik. Kelak ketika mawar itu berbunga, kau bisa memberikannya kepada wanita yang lebih baik dariku. Selama kau merawatnya, menjaganya, selama itu pula aku ada untukmu. Kita rawat mawar kita di kebun masing-masing, dari bibit yang sama. Cinta.

Raka, aku mencintaimu.

Salam rindu, Mawar.
---

Monday, 25 April 2016

Kata-kata Bijak BJ Habibie

BJ Habibie
Siapa tak kenal beliau, seorang jenius asli Indonesia yang pernah menjadi Presiden Republik Indonesia. 

Kisah cintanya bersama Ibu Ainun menjadi begitu terkenal setelah beliau tulis dalam sebuah buku yang kemudian di-film kan dalam "Habibie dan Ainun". Kesetiaannya terhadap Ibu Ainun sungguh sangat menyentuh, mereka berjuang bersama meraih kesuksesan hingga Habibie bisa sampai sekarang.

Beliau merupakan salah satu idola saya, selain karena kesetiaan cinta dan juga kejeniusannya, beberapa quotesnya juga sangat menyentuh. Berikut adalah beberapa quotes dari BJ Habibie.

Tidak perlu seseorang yang sempurna, cukup temukan seseorang yang membuatmu bahagia dan membuatmu berarti lebih di bandingkan siapapun. 

Salah satu kunci kebahagiaan adalah gunakan uangmu untuk pengalaman bukan gunakan uangmu untuk keinginan. 

Kegagalan hanya akan ada bila kita menyerah untuk mencoba. 

Jika ada yang menghina anda anggap saja sebagai pujian bahwa sebenarnya dia berjam jam telah memikirkan anda sedang anda tidak sedetipun memikirkan dia. 

Belajarlah mengucap sukur dari hal hal baik di hidupmu, dan belajarlah menjadi pribadi yang kuat dengan hal hal buruk di hidupmu. 

Cinta bukan sekedar tatapan satu sama lain melainkan menatap keluar bersama dengan arah yang seirama 

Masa lalu saya adalah milik saya, masa lalu anda adalah milik anda namun masa depan adalah milik kita berdua. 

Nah itulah beberapa quotes dari BJ Habibie, yang kedua terakhir itu yang jleb.. Menurut kalian, mana yang paling jleb??? ^_^

Wednesday, 9 March 2016

Gerhana Matahari - Sebuah Renungan

9 Maret 2016.

Pemberitaan hari ini heboh, karena hari ini diprediksi akan terjadi gerhana matahari di wilayah Indonesia. Di wilayah yang terlintasi garis khatulistiwa terjadi gerhana total, sedangkan di beberapa daerah lainnya gerhana sebagian.

Subhanallah walhamdulillah, gue juga dapat mengalami kejadian langka ini, sebuah tanda-tanda keagungan Allah dan juga sebagai peringatan bagi kita semua. Memang di tempat gue ga terjadi gerhana total, hanya melalui sebuah jendela kamar gue liat sang surya tertutup rembulan dan membetuk sabit. Secara teoritis fenomena ini terjadi karena bulan, bumi dan matahari terletak pada garis sejajar dan posisi bulan berada di tengah menutupi matahari. Hal ini menyebabkan cahaya matahari tertutup oleh bulan dan bumi menjadi redup.
Subhanallah, maha suci Allah. Coba kita renungkan sejenak, hari ini matahari "hanya" tertutup bulan, dan "hanya" sebentar. Lalu bagaimana nanti pada hari kiamat?  Bagaimana ketika kita bangun di pagi hari sang mentari tak menampakkan diri? Dunia menjadi gelap gulita, dan pada saat itu amalan kita sudah tidak berarti lagi.
Kawan, bersyukurlah kita dapat menyaksikan fenomena ini, dan bertasbihlah memuji Allah, serta beristighfarlah meminta ampunan Allah. Mari kita isi sisa hidup kita dengan amal ibadah, mari kita niatkan hidup kita hanya untuk Allah. Wallahuwalam bishowaf.

Monday, 1 December 2014

Gadget : Membuat yang Jauh Terasa Dekat, Membuat yang Dekat Terabaikan

Gadget
Selamat malam... Gue harap posting ini ga mengganggu pikiran kalian, ga mengganggu waktu kalian. Kalian bisa baca posting ini disaat kalian santai, mungkin juga bisa dijadikan sebuah renungan.

Gadget. piranti canggih yang relatif berteknologi tinggi sekarang ini bertebaran di mana-mana, dari kualitas nomor satu sampai yang ecek-ecek. Dari kalangan bawah, menengah hingga kalangan atas tak luput dari benda yang disebut gadget.

Di satu sisi gadget memberikan banyak manfaat, salah satunya yang akan gue bahas adalah "membuat yang jauh terasa dekat".

Belakangan ini muncul iklan dari sebuah vendor jejaring sosial yang dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo (Cinta) dan Nicolas Saputra (Rangga), dimana kita tahu mereka berdua terlibat dalam film fenomenal AADC (Ada Apa Dengan Cinta). Dalam iklan itu diperkenalkan fitur baru dalam jejaring sosial tersebut, dalam fitur tersebut memungkinkan penggunanya dapat menemukan teman lama mereka dengan fasilitas pencarian berdasarkan sekolah tempat mereka belajar dulu. Dengan adanya fasilitas tersebut kita bisa mencari teman-teman lama, berteman (di sosmed) kemudian bernostalgia sampai dengan mengadakan reuni. Dengan komunikasi lewat sosmed, teman yang berada jauh disana pun menjadi terasa sangat dekat.

Di sisi lain, gadget juga memberikan banyak kerugian atau efek negatif, salah satu yang akan gue bahas adalah "membuat yang dekat terabaikan".

Ini pengalaman gue sendiri, sewaktu gue masih kos. Malam hari gue sama anak-anak kos lainnya biasanya ngumpul di salah satu kamar. Awalnya, HP gue masih HP jadul yang cuma bisa dipake telfon & sms, begitupun dengan 2 temen gue yang lainnya. Perkumpulan menjadi terasa hangat sehangat kopi yang yang kami seduh malam itu. Kami saling bercengkerama, bercerita tentang kehidupan kami masing-masing, tawa dan canda kami menambah hangat suasana.

Namun keadaan berubah ketika satu persatu dari kami membeli gadget berflatform android dengan fasilitas sosial media lengkap. "Ritual" kami berkumpul malam masih dijalani, tetapi ada yang beda saat itu. Kami sibuk dengan gadget masing-masing, sehingga kami menyebut diri kami (ketika sibuk sendiri dengan gadget) dengan sebutan "autis". Kesal memang ketika gue nanya temen gue, eh ga dijawab dan malah senyum-senyum sendiri.  Semenjak gue hijrah dari kosan, gue ga tau temen-temen gue disana masih pada autis atau ngga.

Di lain tempat, gue sama temen-temen se-geng di kampus punya aturan main. Kalau kami sedang kumpul, semua gadget dikumpulkan di meja, ditumpuk dann ga boleh diambil sampe pada bubar. Bukan apa-apa, kadang-kadang salah satu temen gue Kanjeng Roro suka emosi sendiri saat dia dicuekin pas ngomong, alesannya satu : main gadget. 

Mungkin kalian juga pernah mengalami hal yang sama, lagi ngedate sama pacar malah dicuekin gara-gara si doi asyik sama gadgetnya. Tak jarang hal-hal seperti itu memicu terjadinya pertengkaran yang berbuntut panjang. Maka dari itu, pesan dari posting ini adalah pergunakan gadget secara tepat, tepat waktu, tepat situasi, tepat kondisi. Jangan sampai kemajuan tekknologi justru menjadi bumerang untuk generasi muda bangsa ini. Buatlah kesepakatan dengan komunitas/pasangan kalian masalah penggunaan gadget, ada waktu dimana kalian dapat berkumpul tanpa adanya gangguan dari orang lain. MU

Thursday, 27 November 2014

Antara Hawa Nafsu dan Syariat Allah

Antara Hawa Nafsu dan Syariat Allah

Pernah denger nggak sih, kalimat semisal ini?

“Jangan kayak gitulah, kalo gitu sih terlalu ekstrim”

“Islam itu kan toleran, mudah, nggak nyusah-nyusahin, fleksibel”

Kalimat yang begini, bila diucapkan oleh seorang ulama yang mengerti tentang agama tentu sesuatu yang baik, sesuatu yang benar. Tapi seringnya kalimat-kalimat semisal ini keluar dari lisan orang-orang yang malas dan nggak serius mempelajari Islam, untuk membenarkan kesalahan yang dia lakukan, untuk memilah-memilih hukum mana yang dia suka dan mengabaikan hukum yang tidak dia suka atau bertentangan dengan perbuatannya.

Misalnya, seringkali saya menyampaikan tentang haramnya riba dan turunannya seperti KPR, leasing, kartu kredit, serta haramnya beberapa transaksi ekonomi lain seperti asuransi dan perdagangan saham, biasanya yang keluar dari orang yang begini,

“Jangan kayak gitulah, kalo gitu sih terlalu ekstrim”

Tidak terjadi hal semisal itu ketika saya menjelaskan pada masyarakat tentang keutamaan berpuasa sunnah, rajin bersedekah, semangat dalam menghapal Al-Qur’an, memperbanyak shalat malam dan sunnah-sunnah nawafil lainnya.

Mengapa bisa begitu?

Memang kita hidup dalam masyarakat yang menjadikan dirinya sendiri dan nafsunya menjadi standar atas baik dan buruk, atas halal dan haram, bukan Allah yang menentukannya.

Sesuatu yang menurut dia baik lantas dikatakan baik, sesuatu yang dia belum melakukannya atau dia belum mau melakukannya, maka dikatakan ekstrim. Sayangnya dia sendiri malas dan lalai dalam mempelajari agama.

Lucunya, terkadang ulama yang jelas lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mempelajari agama Islam, dan jelas lebih mengetahui apa yang kebanyakan manusia tidak mengetahui tentang perkara agama, bisa dihukumi “sesat” atau “tidak sesat” oleh segolongan manusia berdasarkan hawa nafsunya.

Hampir-hampir mirip dengan sifat kaum Yahudi yang ketika didatangkan seorang Rasul bagi mereka, bila Rasul itu menyampaikan sesuatu yang bertentangan dengan hawa nafsu mereka, maka mereka mendebat bahkan membunuh Rasul itu. Bedanya dengan sekarang, baru sebatas pembunuhan karakter.

Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israil, dan telah Kami utus kepada mereka rasul-rasul. Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh (QS Al-Maaidah [5]: 70)

Ceritanya, ada orang yang masih berkutat dengan riba, bahkan hidup dari sana. Sudah umum juga diketahui bahwa seringkali dia melibatkan suap dalam melancarkan bisnisnya. Dan, suatu waktu ada ulama yang menyampaikan haramnya riba dan suap, maka dia katakan

“Wah, itu ustadz ekstrim, salah tuh, terlalu menghakimi dan terlalu keras”

Nah, jadi sekarang yang “Ustadz” yang mana sih, dia atau yang sudah belajar? Jadi, yang “terlalu menghakimi” dan “terlalu keras” siapa?

Agama Islam ini memang agama yang mengatur seluruh kehidupan manusia, karena datang dari Allah yang Maha Mengatur. Memang ada beberapa hal di dalam Islam yang hukumnya syubhat (abu-abu) atau ada ikhtilaf (perbedaan) ulama dalam memandang hukumnya. Namun lebih banyak lagi di dalam agama ini yang sudah jelas-jelas hukumnya didalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang takut terhadap syubhat berarti dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya disekitar (ladang) yang dilarang untuk memasukinya, maka lambat laun dia akan memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan larangan Allah adalah apa yang Dia haramkan. Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah qalbu (HR Bukhari Muslim)

Semua tertulis jelas hukumnya di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, kalau saja kita mau belajar mengerti dan memahami hal tersebut.

“Tapi kan nggak semua orang yang bisa paham itu? Baca Al-Qur’an dan As-Sunnah pun harus ada penjelasannya kan?”

Betul sekali, karena itu mulailah belajar. Minimal sediakan tafsir Al-Qur’an sebagai teman dalam membaca Al-Qur’an, setelah tilawah, lanjut dengan merenungi arti serta tafsirnya, dan diskusikan dengan ahli ilmunya bila masih ada yang kurang memahami.

Beli buku yang berkaitan dengan masalah yang kita ingin kuasai, datangi majlis-majlis ilmu yang membahasnya, atau bahkan undanglah yang memiliki ilmunya untuk membahasnya bersama-sama.
Tapi tidak dengan mengatakan,

“Islam itu kan toleran, mudah, nggak nyusah-nyusahin, fleksibel”

Lalu dia menyerahkan definisi “toleran-mudah-nggak susah-fleksibel” itu sesuai dengan dia, tanpa ilmu, tanpa pengetahuan, sehingga sudah pasti akan menuju jalan kesesatan.

Terus terang, saya lebih kagum dan respek pada beberapa teman yang masih bermaksiat namun sadar bahwa mereka bermaksiat, sadar bahwa mereka salah. Hanya perlu dukungan dan waktu saja, dan tentu izin dan hidayah Allah agar mereka mau berubah ke arah yang baik. Karena kesadaran akan kebenaran itu sudah setengah dari kebaikan.

Ada yang tahu kerudung punuk unta itu dilarang, tapi masih menggunakannya, tapi dia sadar betul dan mau untuk mengubah penampilannya, hanya masih belum yakin, hanya masih perlu waktu.

Ada yang masih pacaran, tapi kemana-mana bilang haramnya pacaran. Bukan karena niat yang salah atau sengaja, tapi mungkin masih belum yakin, setan munafik masih ada di dalam hatinya, mungkin masih perlu waktu dan dukungan.

Ada yang masih makan riba, tapi sadar perbuatannya salah, lalu mengundang para asatidz datang ke kantornya, untuk ceramah haramnya transaksi riba. Niatnya sudah ada namun perlu penguatan. Mungkin dia ingin sama-sama karyawanya keluar dari kantor yang penuh riba.

Semua yang begini, kita hormati dan respek, kita dukung dan kita dampingi. Karena kesadaran dan niat sudah ada, kita tinggal memperbesar kesadaran dan niatan itu.

Yang jelas, beda dengan yang kita bahas di depan. Sudahlah salah, malah menyalahkan hukumnya Allah, malah menyalahkan ulama yang membawakan Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan malah menuntut agar syariat Islam disesuaikan dengan nafsunya.

Lalu yang jadi Tuhan siapa? Allah atau manusia?

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? (QS Al-Furqaan [25]: 43)

Hanya kepada Allah tentu kita menyembah, artinya hanya pada Allah seluruh ketaatan atas peraturan. Kalaulah kita belum bisa melaksanakannya, maka berdoalah semoga kita diberi kemampuan untuk melaksanakannya, dan keseriusan dalam melaksanakannya.

Janganlah kita jadi orang yang menentang, bahkan menjadikan diri kita sebagai pembuat aturan setelah Allah menurunkan syariat yang jelas yaitu Islam. Tugas kita memahami aturan Allah bukan membuat aturan, mencari dalil halal-haram bukan membuat dalil halal-haram.

Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui (QS Al-Jaatsiyah [45]: 18)

Untuk beberapa pembahasan tentang transaksi ekonomi yang saya sebutkan diatas, boleh membaca beberapa artikel dibawah ini, atau silakan cari referensi-referensi lain yang berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

http://konsultasi.wordpress.com/2008/11/20/riba-definisi-hukum-dan-macamnya/
http://konsultasi.wordpress.com/2007/01/13/leasing-sepeda-motor/
http://konsultasi.wordpress.com/2010/01/29/bolehkah-memanfaatkan-kartu-kredit/
http://konsultasi.wordpress.com/2007/09/14/jual-beli-saham-dalam-pandangan-islam/
http://konsultasi.wordpress.com/2012/05/22/hukum-asuransi-syariah/

Disalin dari : http://felixsiauw.com/home/antara-hawa-nafsu-dan-syariat-allah/

Tuesday, 11 November 2014

Filosofi Sebutir Telur


Suatu ketika saya sedang menonton sebuah acara televisi. Acara tersebut menginspirasi kita sebagai umat muslim untuk melakukan tetap istiqomah dalam Islam.

Di acara tersebut hadirlah seorang bintang tamu yang namanya saya lupa, beliau adalah seorang pengusaha yang pada awalnya pernah mengalami jatuh bangun seperti halnya pengusaha-pengusaha lain. Namun yang menarik adalah ketika beliau bercerita tentang titik balik kebangkitannya sehingga sekarang beliau bisa sukses.

Awalnya beliau adalah sosok yang bisa dikatakan tidak ramah dalam berkomunikasi dengan orang lain, sehingga sempat usahanya berada dalam jurang kebangkrutan. Kemudian beliau berintrospeksi diri, sehingga akhirnya beliau menemukan sebuah filosofi dari sebutir telur.

Seperti kita tahu telur dapat dijadikan sebagai bahan makanan atau lauk pauk. Untuk dapat menikmatinya, tentu kita harus mengetuk cangkang telur agar isi telurnya dapat kita olah untuk kemudian kita makan. Selain itu, jika si telur tersebut dierami oleh induknya, atau disimpan dalam inkubator untuk ditetaskan, maka beberapa minggu kemudian akan lahir individu baru dari dalam telur tersebut. Lalu apa menariknya?

Mari kita lihat persamaan diantara keduanya. Telur yang akan dimasak dan ditetaskan, keduanya harus mengalami satu proses yang sama yaitu mengetuk cangkangnya sampai retak dan terbelah.

Akan tetapi keduanya mempunyai perbedaan. Telur yang akan dimasak diketuk dari luar, akibatnya cangkang itu hancur dan isinya dikeluarkan. Cangkangnya dibuang dan isinnya kita makan, yap. Akhirnya tidak ada yang berbekas dari telur itu. Sedangkan pada kasus telur yang ditetaskan, cangkang telur diketuk-ketuk dari dalam, kemudian retak dan sebuah kehidupan baru lahir.

Baiklah, kita cermati maknanya. Proses pecahnya cangkang telur diibaratkan sebagai sebuah proses perubahan. Ketika cangkang itu diketuk dari luar, artinya untuk mendapatkan suatu perubahan dalam diri harus dilakukan atau dipaksa oleh orang lain. Contohnya seorang anak yang tidak mau sholat kemudian dipaksa oleh orang tuannya untuk sholat, hasilnya setiap waktu sholat anak tersebut harus dipaksa oleh orang tuanya.  Tidak ada yang berbekas dari paksaan-paksaan tersebut.

Sedangkan telur yang pecah karena menetas itu diibaratkan seseorang yang berubah karena kesadaran diri. Efeknya muncul kehidupan yang baru, muncul sosok baru yang lebih baik dari sebelumnya karena dorongan tersebut datang dari dirinya sendiri.


Faktor-faktor yang menyebabkan perubahan diri pada seseorang sangat  beragam sekali, tergantung dari masing-masing individu, dan yang paling penting perubahan tersebut tidak dapat dipaksakan. Terkadang kita sering sekali menemukan orang-orang yang diminta untuk berubah, menjadi lebih baik. Semua orang-orang terdekatnya menasehatinya untuk berubah, tapi hasilnya nol. Sedangkan di tempat dan waktu yang lain, mungkin ada juga orang yang tiba-tiba berubah dengan sendirinya tanpa ada yang meminta, tanpa ada yang memaksa.

Ketika Kita Mencintai Si Dia Melebihi Cinta Kita Kepada Allah



Apakah kamu merasa mencintai si dia karena Allah?
Cobalah renungkan lagi...

Ketika si dia menelepon, kemudian kita tidak sempat mengangkatnya. Kita merasa sangat bersalah ketika si dia marah. Kemudian kita mati-matian meminta maaf kepadanya.

Tetapi bagaimana ketika Allah “menelepon” kita dengan seruan azan-Nya? Bahkan kita (mungkin) tidak pernah menjawab seruan-Nya. Lalu apakah setelah itu kita mati-matian meminta maaf dan beristighfar kepada-Nya?

Ketika malam minggu tiba, kita bertemu dengan si dia. Memadu kasih, bermesraan dan hingga lupa waktu.

Coba ingat seberapa singkatnya waktu yang kita pergunakan untuk bermesraan dengan Sang Pencipta ketika kita shalat?

Ketika waktu gajian tiba, kamu ajak si dia berbelanja. Kamu turuti permintaannya ini dan itu. Kamu ikuti semua keinginannya, dan kamu jauhi apa yang tidak disukainya.

Dan apakah kamu sudah tunaikan yang wajib? Apakah kamu sudah mengikuti Sunnah Rasulullah SAW? Lalu apakah kamu juga sudah menjauhi apa yang dilarang oleh Allah SWT?

Ketika si  dia  tiba-tiba diam, tak mau mengangkat teleponmu, tak mau menjawab SMS mu. Seketika kamu langsung berinstrospeksi, mencari-cari kesalahan dirimu untuk meminta maaf kepadanya.

Namun tiba-tiba rezekimu sempit, usahamu pailit, dan perutmu melilit karena lapar. Kemudian kamu marah kepada Tuhan karena hidup ini tak adil. Mungkinkah Tuhan sedang marah? Mungkinkah Tuhan sedang menunggumu berinstrospeksi dan meminta maaf kepada-Nya?

Sekali lagi, apakahh kamu sudah yakin kamu mencintai si dia karena Allah? Apa kamu sudah yakin kamu sudah menempatkan Allah sebagai cinta tertinggimu?

Ketahuilah, Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan untuk menyempurnakan agama dan ibadah kita. Kita terlena dengan gemerlapnya kehidupan dunia, kita terpesona dengan keelokan parasnya, kita tersentuh karena kelembutan hatinya. Tapi sadarkah kita bahwa dia ada di sisi kita atas izin Allah? Dia dihadirkan untukmu agar saling mengingatkan bahwa hidup di dunia ini hanya sementara.

Coba kita renungkan, ketika kita menikah dan duduk di pelaminan. Siapa orang yang paling dekat duduknya dengan kita? Tentu kekasih kita, pasangan hidup kita. Kemudian orang-orang yang kita sayangi dan menyayangi kita, orang tua dan keluarga dekat kita.

Lalu siapakah orang-orang yang kamu undang di pesta pernikahanmu? Tentu orang-orang yang kau kenal dan mengenalmu, yang sering menyapamu. Bagaimmana dengan orang yang sama sekali tidak pernah mengenalmu, tidak pernah menyapamu, bahkan tidak pernah mengingat namamu? Tentu tidak akan kamu undang.

Begitupun ketika Allah memanggil kita, menuju alam akhirat. Yang akan berada didekat-Nya adalah mereka yang menyayangi-Nya, mereka yang selalu mengingat nama-Nya dalam dzikir, mereka yang selalu menyapa-Nya dalam shalat, mereka yang rela berkorban untuk berjuang di jalan-Nya.

Semoga bermanfaat...

Rahasia Dasar Mengelola Keuangan dari Rasulullah

ilustrasi uang © rakyatbersatu.com
Dengan langkah gontai, laki-laki itu datang menghadap Rasulullah. Ia sedang didera problem finansial; tak bisa memberikan nafkah kepada keluarganya. Bahkan hari itu ia tidak memiliki uang sepeserpun.
Dengan penuh kasih, Rasulullah mendengarkan keluhan orang itu. Lantas beliau bertanya apakah ia punya sesuatu untuk dijual. “Saya punya kain untuk selimut dan cangkir untuk minum ya Rasulullah,” jawab laki-laki itu.
Rasulullah pun kemudian melelang dua barang itu. “Saya mau membelinya satu dirham ya Rasulullah,” kata salah seorang sahabat.
“Adakah yang mau membelinya dua atau tiga dirham?” Inilah lelang pertama dalam Islam. Dan lelang itu dimenangkan oleh seorang sahabat lainnya.
“Saya mau membelinya dua dirham”
Rasulullah memberikan hasil lelang itu kepada laki-laki tersebut. “Yang satu dirham engkau belikan makanan untuk keluargamu, yang satu dirham kau belikan kapak. Lalu kembalilah ke sini.”
Setelah membelikan makanan untuk keluarganya, laki-laki itu datang kembali kepada Rasulullah dengan sebilah kapak di tangannya. “Nah, sekarang carilah kayu bakar dengan kapak itu…” demikian kira-kira nasehat Rasulullah. Hingga beberapa hari kemudian, laki-laki itu kembali menghadap Rasulullah dan melaporkan bahwa ia telah mendapatkan 10 dirham dari usahanya. Ia tak lagi kekurangan uang untuk menafkahi keluarganya.
Salman Al Farisi punya rumus 1-1-1. Bermodalkan uang 1 dirham, ia membuat anyaman dan dijualnya 3 dirham. 1 dirham ia gunakan untuk keperluan keluarganya, 1 dirham ia sedekahkan, dan 1 dirham ia gunakan kembali sebagai modal. Sepertinya sederhana, namun dengan cara itu sahabat ini bisa memenuhi kebutuhan keluarganya dan bisa sedekah setiap hari. Penting dicatat, sedekah setiap hari.
Nasehat Rasulullah yang dijalankan oleh laki-laki di atas dan juga amalan Salman Al Farisi memberikan petunjuk kepada kita cara dasar mengelola keuangan. Yakni, bagilah penghasilan kita menjadi tiga bagian; satu untuk keperluan konsumtif, satu untuk modal dan satu untuk sedekah. Pembagian ini tidak harus sama persis seperti yang dilakukan Salman Al Farisi.

mengelola uangKEPERLUAN KONSUMTIF

Untuk soal ini, rasanya tidak perlu diperintahkan pun orang pasti melakukannya. Bahkan banyak orang yang menghabiskan hampir seluruh penghasilannya untuk keperluan konsumtif. Tidak sedikit yang malah terjebak pada masalah finansial karena terlalu menuruti keinginan konsumtif hingga penghasilannya tak tersisa, bahkan akhirnya minus.
Yang perlu menjadi catatan, bagi seorang suami, membelanjakan penghasilan untuk keperluan konsumtif artinya adalah memberikan nafkah kepada keluarganya. Jangan sampai seperti sebagian laki-laki yang menghabiskan banyak uang untuk rokok dan ke warung, sementara makanan untuk anak dan istrinya terabaikan.

MODAL

Sisihkanlah penghasilan atau uang Anda untuk modal. Bahkan, kalaupun Anda adalah seorang karyawan atau pegawai. Sisihkanlah setiap bulan gaji Anda untuk menjadi modal atau membeli aset. Menurut Robert T. Kyosaki, inilah yang membedakan orang-orang kaya dengan orang-orang kelas menengah dan orang miskin. Orang kaya membeli aset, orang kelas menengah dan orang miskin menghabiskan uangnya untuk keperluan konsumtif. Dan seringkali orang kelas menengah menyangka telah membeli aset, padahal mereka membeli barang konsumtif; liabilitas.
Aset adalah modal atau barang yang menghasilkan pemasukan, sedangkan liabilitas adalah barang yang justru mendatangkan pengeluaran. Barangnya bisa jadi sama, tetapi yang satu aset, yang satu liabilitas. Misalnya orang yang membeli mobil dan direntalkan. Hasil rental lebih besar dari cicilan. Ini aset. Tetapi kalau seseorang membeli mobil untuk gengsi-gengsian, ia terbebani dengan cicilan, biaya perawatan dan lain-lain, ini justru menjadi liabilitas. Robert T Kiyosaki menemukan, mengapa orang-orang kelas menengah sulit menjadi orang kaya, karena berapapun gaji atau penghasilan mereka, mereka menghabiskan gaji itu dengan memperbesar cicilan. Berbeda dengan orang yang membeli aset atau modal yang semakin lama semakin banyak menambah kekayaan mereka.
Jangan dianggap bahwa aset atau modal itu hanya yang terlihat, tangible. Ada pula yang tak terlihat, intangible. Contohnya ilmu dan skill. Jika Anda adalah tipe profesional, meningkatkan kompetensi dan skill adalah bagian dari modal, bagian dari aset. Dengan kompetensi yang makin handal, nilai Anda meningkat. Penghasilan juga meningkat.

SEDEKAH

Jangan lupa sisihkan penghasilan Anda untuk sedekah. Mengapa? Sebab ia adalah bekal untuk kehidupan yang hakiki di akhirat nanti. Baik sedekah wajib berupa zakat maupun sedekah sunnah.
Apa yang dilakukan Salman Al Farisi adalah amal yang luar biasa. Ia bersedekah senilai apa yang menjadi keperluan konsumtif keluarganya. Jadi kita kita punya gaji atau penghasilan tiga juta, lalu kebutuhan konsumtif keluarga kita satu juta, kita baru bisa menandingi Salman Al Farisi jika bersedekah satu juta pula. Namun karena ada hadits Rasulullah yang menyebutkan bahwa sedekah satu bukit tidak dapat menyamai sedekah satu mud para sahabat, kita tak pernah mampu menandingi sedekah Salman Al Farisi.
Harta sejati kita yang bermanfaat di akhirat nanti adalah apa yang kita sedekahkan. Lalu mengapa kita membagi penghasilan kita menjadi tiga bagian; konsumsi, modal dan sedekah? Mengapa tidak semuanya disedekahkan? Sebab konsumsi dan modal sesungguhnya juga pendukung sedekah kita. Jika keperluan konsumsi kita terpenuhi, maka fisik kita relatif lebih sehat. Dengan fisik yang sehat, kita bisa beribadah dan bekerja yang sebagian hasilnya untuk sedekah. Mengapa perlu mengalokasikan untuk modal/aset? Karena ia akan semakin memperbesar pemasukan kita dan dengannya kita menjadi lebih mudah untuk bersedekah dalam jumlah lebih besar dan juga lebih banyak beramal. 

Oleh : Muchlisin BK
Dikutip dari : http://keluargacinta.com/rahasia-dasar-mengelola-keuangan-dari-rasulullah/

Thursday, 6 November 2014

Employee Satisfaction vs Customer Satisfaction

Mangubay - Beberapa hari yang lalu gue baca artikel tentang bagaimana mengembangkan sebuah bisnis dengan mengoptimalkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki. 

Ada satu bahasan yang cukup menarik tentang employee satisfaction or customer satisfaction? Mana yang lebih penting antara kepuasan karyawan atau kepuasan pelanggan? Semua saling berkaitan.

Coba kalian pikir, tempatkan diri kalian sebagai seorang karyawan dan kalian tidak mendapatkan hak-hak kalian sebagai karyawan, seperti misalnya jam istirahat yang cukup, waktu libur yang memadai, dan tentunya gaji yang kompetitif. Tentunya kalian bekerja tidak maksimal. Yang terjadi hanyalah mengeluh dan terus mengeluh, hal ini berakibat dengan menurunnya pula kualitas pelayanan kalian terhadap customer. Sebaliknya, jika hak-hak kalian sebagai karyawan terpenuhi dengan baik, maka kinerja kalian pun akan terus melejit. Pelayanan terhadap customer pun semakin baik.

Sebagai contoh perusahaan besar yang sangat memanjakan karyawan nya adalah google. Di dalam kantor google terdapat fasilitas yang lebih dari cukup (baca: sangat lebih lebih lebih dari cukup), ga percaya? nih liat!








Gimana? masih belum percaya juga? Silahkan googling sendiri.. hehe...

Nah, dengan segala fasilitas tersebut google berharap kinerja karyawannya akan terus meningkat dan menghasilkan inovasi-innovasi baru yang dapat membuat perusahaan menjadi lebih maju. Selain itu, google juga berharap agar karyawannya tidak "tergoda" untuk pindah ke perusahaan pesaing.

Nah, di Indonesia ini masih banyak sekali perusahaan-perusahaan yang belum memberikan fasilitas yang memadai untuk karyawannya, tak pelak banyak karyawan yang mengeluh baik di dunia nyata ataupun di sosial media. Memang tak perlu seperti halnya google, cukup dengan memberikan waktu istirahat yang cukup, waktu libur yang cukup dan suasana kantor yang nyaman.

Jadi, mana yang lebih penting : Employee Satisfaction atau Customer Satisfaction? - MU